Review: Skyline (2010)


Kesuksesan sutradara Neill Blompkamp dalam memproduksi District 9 (2009) ternyata sedikit banyak mempengaruhi cara pandang banyak produsen dan pembuat film Hollywood dalam menghasilkan karya-karya mereka. Tidak hanya mempengaruhi bangkitnya kembali pembahasan mengenai makhluk luar angkasa di dalam jalan cerita, District 9 sepertinya juga mampu memberikan contoh mengenai bagaimana cara membuat sebuah film dengan tampilan yang megah namun menggunakan modal yang tidak akan mampu menyaingi biaya produksi yang dibutuhkan James Cameron dalam setiap film yang ia hasilkan.

Greg dan Colin Strause – atau dikenal sebagai Brothers Strause — (Aliens vs Predator: Requiem, 2007) sepertinya mampu menyerap contoh yang diberikan oleh Neill Blompkamp dengan sangat baik. Dengan bujet yang hanya mencapai sekitar US$10-20 juta, mereka menghasilkan Skyline, sebuah film yang menceritakan kota Los Angeles yang sedang berada dalam penyerangan sekelompok makhluk luar angkasa yang tak dikenal.

Nama Brothers Strause sendiri sebenarnya bukan nama baru di dunia special effects film-film produksi Hollywood. Nama mereka tercatat pernah turut bertanggung jawab dalam menghasilkan special effects untuk serial The X-Files (1995) hingga berbagai film blockbuster seperti The Nutty Professor (1996), Volcano (1997) dan Titanic (1997). Perusahaan produksi mereka, Hydraulx Filmz, juga turut diikutsertakan dalam pembuatan special effects di film The Day After Tomorrow (2004), 300 (2007), Avatar (2009) hingga film yang akan dirilis di tahun 2011, Battle: Los Angeles – yang membuat Sony Pictures murka setelah mengetahui bahwa Brothers Strause ternyata memproduksi dan merilis Skyline dengan jalan cerita yang hampir serupa.

Dan memang harus diakui, jika dilihat dari sisi jalan cerita, Skyline bukanlah sebuah film yang dapat dipandang dengan terhormat. Jalan ceritanya yang berkisah seputar invasi makhluk luar angkasa  kepada Bumi diceritakan dengan gaya penceritaan yang sepertinya banyak ‘terinspirasi’ oleh film-film seperti District 9, Independence Day (1996), War of the Worlds (2005) hingga Cloverfield (2008). Fokus ceritanya berada pada pasangan karakter Jarrod (Eric Balfour) dan Elaine (Scottie Thompson). Berdua mereka melakukan perjalanan ke Los Angeles atas undangan perayaan hari ulang tahun sahabat mereka, Terry (Donald Faison). Setelah beberapa menit dijejali berbagai adegan yang kurang esensial – ditambah dengan sub plot cerita mengenai kehamilan Elaine dan perselingkuhan Terry dengan asistennya, Denise (Crystal Reed) – masalah mulai diperkenalkan ketika jalan cerita Skyline berada pada waktu yang menunjukkan pukul empat pagi.

Jarrod, Elaine, Denise, Terry dan istrinya, Candice (Brittany Daniel), yang sedang terlelap tidur dikejutkan dengan datangnya sekumpulan cahaya berwarna biru yang berpijar begitu terang sehingga mampu membangunkan seluruh warga Los Angeles. Datangnya cahaya biru tersebut ternyata hanya menjadi awal dari bencana yang siap menyerang manusia yang berada di sekitar daerah tersebut. Paginya, sekelompok makhluk tak dikenal – yang diduga sebagai makhluk luar angkasa, namun tidak mendapatkan kejelasan di sepanjang film – mulai beraksi meneror dan menculik setiap manusia yang mereka temui dengan tujuan untuk mengkonsumsi otak mereka. Jarrod, Elaine dan ketiga temannya pun kini harus berjuang dan bertahan demi keselamatan nyawa mereka.

Terlepas dari rentetan adegan kurang penting sepanjang 20 menit yang diletakkan di awal film, Skyline sebenarnya mampu tampil menarik dengan memberikan tampilan visual yang cukup meyakinkan. Berbagai adegan penyerangan terhadap kota Los Angeles berhasil digarap dengan sangat baik sehingga para penonton dapat mampu merasakan intensitas ketegangan yang dirasakan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita film. Masalahnya, setelah titik tersebut, Joshua Cordes dan Liam O’Donnell, yang bertanggung jawab sebagai penulis naskah, kemudian seperti kebingungan untuk membawa kemana arah cerita Skyline berikutnya. Mereka kemudian memfokuskan untuk tetap bergulat di seputar kisah penyelamatan diri dari para karakter utama film ini. Pilihan yang tidak salah… namun Cordes dan O’Donnell memilih cara yang cenderung membosankan untuk menggambarkan arah cerita yang mereka pilih.

Fokus yang dipilih untuk tetap berada pada para karakter utama film ini tentu saja mengorbankan berbagai detil lain yang seharusnya dapat dikembangkan untuk menghindari kesan cerita yang monoton. Hasilnya, hingga film ini berakhir tidak diperoleh kejelasan mengenai apa sebenarnya yang menyerang Los Angeles — walaupun premis dan kemungkinan besar seluruh penonton telah beranggapan bahwa sang karakter antagonis merupakan makhluk luar angkasa. Proses penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok angkatan militer — juga kemungkinan besar merupakan anggapan penonton karena tidak diberikan kejelasan yang pasti di dalam jalan cerita – terhadap para makhluk angkasa luar juga kurang mampu ditampilkan secara mendalam. Ini belum termasuk mengenai berbagai sub plot cerita yang dialami para karakter utama yang kemudian hilang begitu saja ketika adegan penyerangan mulai berlangsung.

Anda ingat bagaimana nasib yang dialami Wikus van de Merwe dalam District 9? Tanpa bermaksud memberikan ending cerita Skyline, salah satu karakter utama film ini juga mengalami hal yang sama. Bedanya, ending Skyline terasa sangat dipaksakan untuk tetap menghidupkan karakter tersebut di dalam jalan cerita. Ending Skyline juga dilakukan secara open ending yang jelas akan membuka kemungkinan adanya kelanjutan kisah film ini di waktu yang akan datang.  Secara tidak langsung, hal ini juga akan  menjawab pertanyaan mengapa banyak detil yang terlewatkan begitu saja di sepanjang film ini. Mungkin untuk bermaksud agar jalan cerita film ini dapat tampil misterius. Namun dengan perlakuan yang salah, Skyline malah berakhir membingungkan dan membosankan pada beberapa titik.

Seperti halnya District 9, Skyline melanjutkan tradisi bahwa tidak selamanya sebuah tampilan mewah harus didapatkan dengan biaya yang megah. Brothers Strause terbukti mampu memberikan visual effects yang sangat meyakinkan di sepanjang film ini. Sayangnya, tidak seperti District 9, Brothers Strause melupakan fakta penting bahwa susunan jalan cerita yang padat dan berbobot merupakan faktor yang sangat esensial dalam sebuah film. Skyline terbukti tidak memiliki hal tersebut. Film ini terasa hanya sebagai sebuah penggabungan dari jalan cerita film-film science fiction yang pernah dirilis oleh Hollywood sebelumnya. Jalan cerita yang using, dialog yang kadang terdengar memalukan dan ditambah dengan penampilan para pemerannya yang tidak dapat dikatakan memuaskan membuat Skyline berakhir sebagai sebuah film bertema alien mediocre yang masih dapat dinikmati, namun tidak akan memberikan kesan yang cukup berarti.

Rating: 3 / 5

Skyline (Rogue/Relativity Media/Hydraulx Entertainment/Black Monday Film Services/Universal Pictures, 2010)

Skyline (2010)

Directed by Brothers Strause Produced by Brothers Strause, Kristian Andresen, Liam O’Donnell Written by Joshua Cordes, Liam O’Donnell Starring Eric Balfour, Scottie Thompson, Donald Faison, David Zayas, Brittany Daniel, Neil Hopkins, Crystal Reed Music by Matthew Margeson Cinematography Michael Watson Editing by Nicholas Wayman-Harris Studio Rogue/Relativity Media/Hydraulx Entertainment/Black Monday Film Services Distributed by Universal Pictures Running time 100 minutes Country United States Language English

Advertisements

15 thoughts on “Review: Skyline (2010)”

  1. Setuju abnegt. Endingnya itu gantung banget. Malahn saya gak percaya saat udah habis. Hah? Segini doang endingnya? Kayaknya bakal ada sekuel.

  2. Setuju, bro Amir! Bahkan rasanya terlalu mewah memberikan rating 3 pada film ini. Mungkin 2 saja sudah cukup. Film yang membosankan. Bahkan jalan ceritanya terkesan bodoh. Para pemerannya juga tidak mampu menjiwai peran mereka. Tidak direkomendasikan untuk ditonton, deh!

    1. setuju deh,, ratingnya 2 aja … di poster ada kata2 NASA yang pertamanya kirim pesan,, tapi di cerita, gada NASA sama sekali,, kaya baru mulai cerita film yg sebenernya tuh di akhir.. dan tiba2 bersambung,, malesss

      1. Saya ngasih rating 3 karena, jujur aja, ketika menyaksikan film ini, saya memang tidak berharap banyak. Trailer, poster dan rilisnya yang muncul tiba-tiba sudah membuat saya ‘berharap’ kalo Skyline pastilah film yang biasa saja dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. Dan ketika menonton film ini, ternyata saya mampu merasa sedikit terhibur. Khususnya di beberapa adegan awal yang harus saya akui cukup menegangkan.

        Ending yang menggantung memang sengaja dibuat karena Skyline direncanakan untuk memiliki sekuel. Tapi memang harus diakui Brothers Strause kurang apik dalam mengelola ending tersebut.

  3. kesan pertama: nyesel nonton film ini…endingnya nggak jelas..lagipula tokoh jarrod yang otaknya sudah diambil dan badannya dibuang,,,gimana bisa masih bisa jadi pasangan Elaine di sekuel berikutnya? masa suaminya jadi monster aneh begitu…

  4. entah kenapa saya suka film ini. gak terlalu penting soal bobot ceritanya, tapi saya tetap terhibur.Film ini memang bertanggung jawab ada sequelnya. kalau tidak ada saya bilang film ini aneh.. Overall saya lebih suka skyline daripada Cloverfield walaupun orng2 berkata sebaliknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s