Review: Resident Evil: Afterlife (2010)

Walau terus menerus mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia, dengan perolehan keuntungan yang telah berhasil mencapai US$525 juta dari peredaran ketiga seri film Resident Evil sebelumnya, tidaklah mengherankan begitu mendengar berita bahwa sutradara Paul W. S. Anderson kembali duduk di kursi sutradara untuk mengarahkan seri keempat franchise tersebut. Memanfaatkan teknologi 3D yang saat ini sedang digandrungi Hollywood, Resident Evil: Afterlife pun akhirnya diproduksi dengan bujet sebesar US$60 juta – yang merupakan biaya produksi tertinggi jika dibandingkan seri lainnya di franchise ini.

Ditulis oleh Anderson – yang juga duduk sebagai salah seorang produsernya – harus diakui bahwa Resident Evil: Afterlife sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru di dalam jalan ceritanya. Milla Jovovich kembali hadir untuk memerankan karakter ikoniknya sebagai Alice, seorang mantan pegawai keamanan Umbrella Corporation yang terinfeksi T-Virus namun mendapati bahwa tubuhnya bereaksi positif terhadap virus tersebut dan membuatnya memiliki kekuatan khusus – sekaligus menjadikannya incaran para eksekutif Umbrella Corporation untuk terus diteliti struktur DNA tubuhnya.

Melanjutkan Resident Evil: Apocalypse, T-Virus yang telah menyebar ke seluruh penjuru wilayah dunia membuat dunia menjadi tempat yang sangat tidak aman untuk ditempati. Lewat sebuah siaran yang dipancarkan melalui frekuensi radio, Alice mendengar bahwa terdapat sebuah tempat bernama Arcadia yang bebas dari infeksi virus mematikan tersebut. Alice, yang mengira bahwa tempat tersebut berada di wilayah Alaska, akhirnya berangkat ke daerah tersebut sekaligus untuk menyusul rombongan Claire Redfield (Ali Larter) yang telah terlebih dahulu pergi ke wilayah tersebut. Sialnya, Arcadia yang ia temui tak berbeda dengan wilayah lain di dunia yang telah terinfeksi. Tanpa kehidupan sama sekali. Ia malah bertemu dengan Claire yang kini menderita amnesia dan sama sekali tidak mengingat apa-apa mengenai dirinya maupun apa yang terjadi pada dirinya.

Bersama dengan Claire, Alice terbang ke Los Angeles dimana ia bertemu dengan sekelompok orang yang menggunakan sebuah penjara sebagai tempat melindungi diri mereka. Dari mereka pula, Alice mengetahui bahwa Arcadia bukanlah sebuah tempat di Alaska, melainkan sebuah kapal pesiar yang disediakan khusus untuk menampung manusia yang masih belum tercemar oleh T-Virus. Akibat serangan zombie, satu persatu anggota kelompok tersebut tewas menyisakan Chris (Wentworth Miller), yang ternyata merupakan kakak dari Claire. Bertiga, mereka menuju Arcadia, tempat yang ternyata merupakan sebuah jebakan dimana Albert Wesker (Shawn Roberts), pimpinan dari Umbrella Corporation, telah menunggu untuk melenyapkan mereka.

Menggunakan teknologi Fusion Camera System yang dikembangkan oleh James Cameron selama proses pengambilan gambarnya, harus diakui teknologi 3D yang diumbar oleh Resident Evil: Afterlife sangat berhasil memberikan kesan tersendiri kepada para penontonnya, khususnya pada adegan-adegan action dan slow motion yang memang dilakukan untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Begitu berhasilnya terapan 3D tersebut, teknologi tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jalan cerita Resident Evil: Afterlife, hingga dipastikan bagi mereka yang menonton film ini dengan teknologi 2D, tidak akan mendapatkan kesan apapun yang diakibatkan jalan cerita film ini yang seperti hanya menjadi pengulangan dari jalan cerita seri-seri sebelumnya.

Dipenuhi oleh banyak adegan tembakan, ledakan, darah dan berbagai adegan action lainnya, sangatlah mudah untuk mengatakan bahwa Resident Evil: Afterlife adalah sebuah film yang lebih mengutamakan style daripada substance film yang sebenarnya. Walau tidak berada di kursi sutradara pada seri kedua dan ketiga, Anderson tidaklah kesulitan untuk meneruskan ritme dan alur cerita film ini, yang memang sepertinya hanya menggunakan formula yang sama dan menambahkannya dengan beberapa elemen yang tidak berpengaruh banyak pada film ini secara keseluruhan. Bukan sebuah hal yang buruk sebenarnya jika memang Anda merupakan penggemar franchise ini. Namun mereka yang bukan seorang penggemar mungkin akan merasa bosan melihat sajian yang sama diulang secara terus menerus.

Walau jalan cerita terasa datar, menyaksikan petualangan Alice dan Claire – dan menyaksikan mereka terlibat dalam banyak pertarungan yang cukup seru – tentu merupakan sebuah sajian yang cukup menyenangkan. Milla Jovovich harus diakui terlihat semakin lekat dengan karakter Alice yang ia perankan.  Mungkin hanya Jovovich dan Angelina Jolie yang mampu membuat sebuah karakter action wanita terlihat begitu merekat pada diri mereka. Ali Larter juga bermain bagus, walau porsinya seperti semakin dikesampingkan pada seri ini. Tambahan jajaran pemeran seperti Wentworth Miller, Shawn Roberts dan Boris Kodjoe (yang berperan sebagai Luther) juga semakin menambah keapikan dari Resident Evil: Afterlife.

Dipenuhi oleh berbagai special effect yang dilakukan untuk mencapai perolehan terbaik dari teknologi 3D yang diterapkan sutradara Paul W. S. Anderson selama proses pengambilan gambar, Resident Evil: Afterlife tetap saja tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa naskah film ini memiliki banyak kekurangan yang membuatnya berjalan datar, cenderung membosankan pada beberapa bagian dan sama sekali tidak berkesan. Pujian khusus diberikan atas komitmen Anderson untuk menggunakan teknologi 3D secara sebenarnya, dan bukan melalui konversi seperti yang banyak dilakukan oleh sutradara lain. Selebihnya, Resident Evil: Afterlife hanyalah sebuah film yang dibuat untuk para penggemar serial ini. Tidak menawarkan lebih dari itu.

Rating: 3 / 5

Resident Evil: Afterlife (Constantin Film/Impact Pictures/Screen Gems, 2010)

Resident Evil: Afterlife (2010)

Directed by Paul W. S. Anderson Produced by Paul W. S. Anderson, Jeremy Bolt, Don Carmody, Bernd Eichinger, Samuel Hadida, Robert Kulzer Written by Paul W. S. Anderson Starring Milla Jovovich, Ali Larter, Wentworth Miller, Shawn Roberts, Kim Coates, Spencer Locke, Boris Kodjoe, Kacey Barnfield, Norman Yeung, Sergio Peris-Mencheta, Sienna Guillory Music by tomandandy Cinematography Glen MacPherson Editing by Niven Howie Studio Constantin Film/Impact Pictures Distributed by Screen Gems Running time 97 minutes Country United States, United Kingdom, Germany Language English

2 thoughts on “Review: Resident Evil: Afterlife (2010)”

  1. Selain membuat para penonton (terutama cewek) menjerit-jerit histeris, film ini memang tidak menawarkan apa-apa. Hehehe! Saya sudah menonton Residen Evil 1, 2, 3 dan 4… pekerjaan yang membuat saya memperhatikan film ini adalah menghitung berapa banyak cacat yang dibuat oleh sang Sutradara. Untuk RE 4 ini cacat yang paling menyebalkan adalah ketika alat yang dipasang oleh Umbrella Corporation di dada Claire dicabut oleh Alice, Claire membutuhkan waktu berhari-hari untuk memulihkan ingatannya. Namun ketika di kapal Arcadia, alat yang sama dicabut dari dada orang-orang yang diculik Wesker, saya membayangkan akan timbul kekacauan dan usaha yang sulit untuk menenangkan orang-orang ini (mengingat pertemuan Alice dan Claire di Alaska), ternyata hanya dalam sekejap orang-orang seperti K-mart bisa stabil dan bahkan tidak kehilangan memory sama sekali dan bisa bekerja sama mengalahkan Wesker

Leave a Reply