Review: Shanghai (2010)

Aktor John Cusack untuk kedua kalinya bekerjasama dengan sutradara asal Swedia, Mikael Håfström, setelah sebelumnya sukses dalam memproduksi film thriller supranatural, 1408 (2007). Berdasarkan naskah yang ditulis oleh Hossein Amini (Jude (1996), The Four Feathers (2002)), Shanghai memiliki latar belakang lokasi di Shanghai, China pada beberapa bulan sebelum pasukan Jepang melakukan pemboman terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor.

Konflik cerita film ini sendiri dimulai ketika salah satu mata-mata Amerika Serikat, Connor (Jeffrey Dean Morgan), tewas dibunuh oleh seorang yang tak dikenal. Kematiannya sendiri cukup mengejutkan sahabatnya, Paul Soames (John Cusack), dan membuatnya bertekad untuk mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh Connor. Untuk itu, ia memulainya dengan melakukan penyelidikan terhadap Anthony Lan-Ting (Chow Yun-Fat), salah seorang mafia China yang paling disegani.

Menyamar sebagai seorang jurnalis, penyelidikan Paul mempertemukannya dengan Anna (Gong Li), istri Anthony, yang walaupun cantik, namun sepertinya menyimpan sebuah rahasia dan rencana tersendiri dari suaminya. Seperti pria-pria lainnya yang berkenalan dengan Anna, Paul juga semakin lama semakin menaruh hati terhadapnya — suatu hal yang dapat membahayakan hidupnya. Penyamaran dan penyelidikan Paul ternyata juga menarik perhatian Tanaka (Ken Watanabe), seorang perwira Jepang yang mencurigai Anna terlibat dalam sebuah komplotan tertentu untuk menentang keberadaan pasukan Jepang di Perang Dunia II.

Aksi saling berburu antara Paul, Anna dan Tanaka kemudian membuka berbagai misteri mengenai kehidupan politik yang kelam antara beberapa negara. Ketegangan semakin memuncak karena Paul kini tidak hanya harus menyelesaikan misteri siapa pembunuh sahabatnya, namun juga harus berburu dengan waktu sebelum Shanghai, wilayah yang masih belum terkena konflik Perang Dunia II, mulai menjadi sasaran perang dan dirinya tidak dapat keluar lagi dari wilayah tersebut.

Di satu sisi, sebagai sebuah film period, Shanghai berhasil menawarkan setiap aspek kualitas yang seharusnya ada di film-film sejenis. Tata kostum, art direction hingga sinematografi film ini benar-benar menunjukkan bahwa Shanghai diproduksi oleh sebuah tim produksi yang cukup solid. Sayangnya, di sisi lainnya, Shanghai adalah sebuah film yang terlalu lemah di dalam sisi penceritaannya. Naskahnya yang terlalu sederhana seperti mencoba terlalu keras untuk menggabungkan esensi dari sebuah film drama romansa, thriller politik hingga drama sejarah ke dalam satu film.

Hal inilah yang mungkin menyebabkan sutradara Mikael Håfström merangkaikan kisah cerita Shanghai dalam sebuah bentuk cerita yang cenderung beralur lambat dan memberikan banyak detil tambahan di berbagai sisi cerita yang berguna untuk menutupi berbagai kekurangan intensitas cerita yang dimiliki oleh jalur cerita utama. Sialnya, cara penceritaan ini justru menyebabkan Shanghai menjadi berkesan datar, sangat bertele-tele dan cenderung cepat membosankan para penontonnya. Tingkat ketegangan yang perlahan-lahan dibentuk sendiri baru dapat dirasakan pada menit-menit menjelang film ini berakhir, dimana Håfström sekaligus memberikan sebuah jalan penyelesaian dari permasalahan yang telah dipaparkan secara lebar di sepanjang film.

Shanghai juga tidak mampu memberikan poin lebih dari jajaran pemerannya yang diisi oleh nama-nama besar di dunia akting, walau, harus diakui, pengembangan karakterisasi setiap peran yang ada di jalan cerita film inilah yang membuat setiap aktor dan aktris di film ini tidak mampu berbuat banyak. Lihat saja karakter Paul dan Anna yang diperankan oleh John Cusack dan Gong Li. Di dalam jalan cerita Shanghai, dua karakter ini memiliki intensitas seksual yang cukup kuat antara keduanya (khususnya dari Li yang bermain sangat menggoda di film ini — dan mungkin memberikan penampilan terbaik di film ini). Namun entah kenapa hal tersebut hanya diwujudkan sekilas dan sama sekali tidak menggambarkan keseluruhan chemistry yang telah terbentuk antara Cusack dan Li.

Nasib tak lebih baik juga dialami karakter-karakter lain yang sangat terasa kurang pengembangannya. Ken Watanabe tidak mampu mengembangkan karakternya yang sepertinya merupakan perpaduan antara karakter-karakter yang pernah ia perankan di Memoirs of Geisha, The Last Samurai dan Letters from Iwo Jima, walau kali ini tampil dengan porsi yang tidak maksimal. Hal yang sama juga terjadi pada aktor Chow Yun-Fat, yang sebenarnya memiliki peran yang cukup strategis, namun benar-benar tidak diberikan untuk menunjukkan kapabilitasnya.

Walau telah didukung oleh bakat-bakat kenamaan di barisan jajaran pemerannya, Shanghai tetap saja tidak mampu untuk berbuat banyak dalam mengembangkan kisah ceritanya yang dangkal namun mencoba untuk memaparkan berbagai hal, mulai dari drama romansa, thriller politik dan memadukannya pula dengan drama sejarah pemboman pangkalan militer Amerika Serikat Pearl Harbor. Ditambah dengan cara pemaparannya yang cenderung lambat dan membosankan, Shanghai berakhir sebagai sebuah film yang hanya mampu tampil seadanya tanpa mampu memberikan kesan berarti pada penontonnya.

Rating: 3 / 5

Shanghai (Phoenix Pictures/Barry Mendel/The Weinstein Company, 2010)

Shanghai (2010)

Directed by Mikael Håfström Produced by Mike Medavoy, Barry Mendel, Jake Myers Written by Hossein Amini Starring John Cusack, Gong Li, Chow Yun-Fat, Ken Watanabe, David Morse, Franka Potente, Rinko Kikuchi, Jeffrey Dean Morgan Music by Klaus Badelt Cinematography Benoît Delhomme Editing by Peter Boyle, Kevin Tent Studio Phoenix Pictures/Barry Mendel Distributed by The Weinstein Company Country United States Language English

2 thoughts on “Review: Shanghai (2010)”

  1. Setuju… Film ini ceritanya sangat menbosankan. Gw aja nonton nya ngantuk. Terlalu lambat dan bagi gw seh gk tegang sama sekali tuh

Leave a Reply