Review: Sex and the City 2 (2010)


Enam tahun seusai masa penayangannya di televisi berakhir dan dua tahun seusai film pertama dari serial tersebut dirilis, dan meraih kesuksesan komersial luar biasa, empat wanita stylish asal New York kembali hadir mengunjungi para penggemarnya. Dan bukan main-main, Sex and City 2 dibuat dengan biaya produksi sebesar US$95 juta, yang berarti US$30 juta lebih besar dari film pertamanya, untuk membuat sebuah sekuel yang lebih besar, lebih mewah dan… lebih panjang durasi penayangannya.

Walau diterpa berbagai rumor yang menyangkut mengenai memburuknya hubungan mereka selama proses pembuatan film ini, namun keempat pemeran karakter utama dari Sex and the City 2, Sarah Jessica Parker, Kim Catrall, Kristin Davis dan Cynthia Nixon, ternyata mampu menunjukkan chemistry yang bahkan lebih baik dari apa yang telah mereka tunjukkan sebelumnya. Nama-nama pemeran pendukung seperti Chris Noth (Mr Big), John Corbett (Aidan Shaw), David Eigenberg (Steve Brady), Evan Handler (Harry Goldenblatt), Willie Garson (Stanford Blatch) dan Mario Cantone (Anthony Marentino) juga kembali tampil untuk memerankan karakter mereka di film ini yang membuat hampir seluruh jajaran pemeran asli serial legendaris ini hadir di Sex and the City 2.

Kembali diarahkan oleh Michael Patrick King, yang juga bertanggungjawab atas penulisan naskah film ini, Sex and the City 2 mengambil latar belakang waktu cerita 2 tahun semenjak film pertamanya berakhir. Kini, Charlotte (Davis) dan Miranda (Nixon) adalah seorang ibu, Carrie (Parker) adalah seorang wanita yang telah menikah dan Samantha (Cattrall)… well… tetaplah menjadi seorang Samantha. Para wanita ini telah memiliki kehidupan yang cukup berbeda semenjak mereka pertama kali berkenalan di kota New York. Kehidupan yang berbeda, dengan permasalahan yang juga berbeda.

Daripada memikirkan mengenai seks dan pria, Sex and the City 2 memberikan permasalahan yang lebih kompleks lagi bagi keempat pemeran utamanya. Carrie kini sedang dilanda ketakutan bahwa perkawinannya dengan Mr Big akan berjalan seperti pasangan menikah lainnya (baca: membosankan). Charlotte sedang dihadapi rasa curiga bahwa suaminya, Harry, akan berselingkuh dengan pengasuh anak-anaknya. Miranda sedang menghadapi masalah dengan karirnya, sedangkan Samantha sedang berusaha melawan masa menopause yang menghantuinya.

Ditengah-tengah segala permasalahan tersebut, Samantha mendapatkan tawaran untuk terbang ke Abu Dhabi dalam rangka pertemuan bisnis. Tentu saja, Samantha tidak akan meninggalkan ketiga sahabatnya sendirian. Hasilnya adalah sebuah perjalanan menarik penuh petualangan dan beberapa dari mereka, malah menemukan jawaban dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Tentu, semua orang tahu bahwa serial televisi Sex and the City adalah suatu hal yang fenomenal karena tidak hanya mampu sukses secara komersial, namun secara perlahan mampu mengubah tatanan sosial para wanita dalam memandang masalah seks, pria dan fashion, tentu saja. Sex and the City adalah versi hidup dari majalah Cosmopolitan yang membuatnya begitu legendaris dan dipuja (sekaligus dikritik) seluruh kalangan wanita. Namun, itu berakhir enam tahun yang lalu. Ketika versi film dari Sex and the City dirilis tahun 2008, semua orang sadar bahwa film tersebut tidak lebih hanya akan menjadi sebuah film hiburan belaka.

Lalu apa yang dapat diharapkan dari Sex and the City 2? Perbaikan dari sisi naskah? Penambahan karakter yang lebih berani dari sebelumnya? Petualangan seks yang lebih menantang? Pertunjukan fashion yang lebih mencengangkan? Baiklah, dua hal terakhir mungkin akan didapatkan dari film ini. Namun mengharapkan Sex and the City 2 menjadi sebuah kisah dengan cerita yang lebih dalam dan ‘pintar’ adalah sama dengan mengharapkan Samantha tidak akan memikirkan seks lagi di sepanjang hidupnya.

Sex and the City 2 adalah versi lebih panjang dan lebih mewah dari film pendahulunya. Film ini sangat dangkal, dan semua orang tahu akan hal itu. Michael Patrick King bahkan sepertinya tidak berusaha agar film ini dapat menghilangkan imej dangkalnya, namun disitulah letak inti dari Sex and the City 2 secara keseluruhan. Anda diberikan berbagai macam sajian hiburan tanpa harus menggunakan otak Anda dalam menikmatinya. Hal yang sama seperti yang pernah diberikan The Hangover sebelumnya. Hanya saja, daripada tiga karakter pria, disini penonton diberikan empat wanita berusia ‘dewasa’. Daripada ke Vegas, penonton diberikan perjalanan ke Dubai (kata kunci: gurun!). Daripada Zach Galifianakis, penonton diberikan Kim Catrall. Daripada Mike Tyson penonton diberikan Miley Cyrus (dan Penelope Cruz!). Dan daripada masalah seorang bayi, disini penonton dihadapkan pada permasalahan mengenai menopause.

Tentu, beberapa bagian dari Sex and the City 2 akan terasa sangat tidak layak untuk ditampilkan. Beberapa bagian film ini secara terang-terangan mengkritik mengenai budaya Timur (baca: Islam) yang mengekang para wanitanya dalam berekspresi dan berpakaian. King bahkan secara terang-terangan menunjukkan beberapa wanita keturunan Arab yang tergila-gila akan dunia fashion negara Barat. Beberapa orang mungkin akan menemukan ini sebagai masalah besar, namun ada baiknya untuk tetap memandang bahwa Sex and the City 2 hanyalah sebuah karikatur sosial dangkal mengenai cara pandang warga Barat terhadap warga Timur. Tidak lebih, dan seharusnya tidak diartikan lebih dari itu.

Sex and the City 2 jelas bukanlah sebuah film yang akan akan bersaing di berbagai ajang penghargaan film dunia — ummm… mungkin Razzie, dan mungkin sebuah nominasi Best Costume Design di Academy Awards untuk veteran Patricia Field? Naskahnya yang dangkal, dan pada beberapa bagian bersinggungan dengan beberapa hal sensitif, jelas akan menjadi bahan kritikan kuat untuk film ini. Namun diluar kedangkalan film ini, jika Anda mampu membuang seluruh pengharapan akan sebuah film yang berkualitas tinggi, Sex and the City 2 adalah sebuah film yang sangat, sangat menghibur. Mengikuti Sex and the City 2 sama seperti pergi keluar dan mabuk-mabukan bersama teman-teman Anda. Kemungkinan besar, Anda tidak akan mengingat apa yang Anda lakukan ketika itu, namun yang jelas, Anda telah bersenang-senang saat kejadian itu terjadi.

Rating: 3.5 / 5

Sex and the City 2 (HBO Films/Village Roadshow Pictures/Warner Bros./New Line Cinema, 2010)

Sex and the City 2 (2010)

Directed by Michael Patrick King Produced by Michael Patrick King, Sarah Jessica Parker, Darren Star, John Melfi Written by Candace Bushnell, Darren Star (characters), Michael Patrick King (screenplay) Starring Sarah Jessica Parker, Kim Cattrall, Kristin Davis, Cynthia Nixon, Chris Noth, John Corbett, David Eigenberg, Evan Handler, Jason Lewis, Lynn Cohen, Liza Minnelli, Peneplope Cruz, Miley Cyrus, Max Ryan, Noah Mills, Raza Jeffrey Music by Aaron Zigman Cinematography John Thomas Editing by Michael Berenbaum Studio HBO Films/Village Roadshow Pictures Distributed by Warner Bros./New Line Cinema Running time 146 minutes Country United States Language English

Advertisements

7 thoughts on “Review: Sex and the City 2 (2010)”

  1. Disini SJP terlihat tuaaaa dan ada 1 adegan dimana dia terlihat kayak.. errr.. bencong.. hwaaa.. :))

    Trus kekuatan utama yang bikin penonton tertawa sbnrnya lebih ke Samantha Jones sih, drpd Carrie. IMO :). Saya jaaauuh lebih suka yang pertama.

  2. setuju banget! just enjoy the movie, cuci mata, nikmatin mimpi sejenak dan keluar dari bioskop 🙂

    jangan mikirn betapa dangkal en ga penting nya cerita di film ini. Degradasi banget dari seri nya..

    met kenal 🙂

    1. Hmmm… it’s a fair rating for me. Tujuan dari membuat sebuah blog film khan untuk menuliskan opini sang pembuat blog kepada sebuah film yang ditontonnya. Opini bagus seseorang, belum tentu akan berdampak sama dengan orang lain. Vice versa. Saya menikmati Sex and the City 2 bukan berarti setiap pembaca blog ini harus merasakan hal yang sama.

      Film jelek? Saya sempat memberikan beberapa film dengan rating yang rendah. Namun kalau mengharapkan saya menuliskan review untuk film-film berkelas ‘sampah’ di blog ini, rasanya tidak akan akan terjadi. Bukan apa-apa, saya belum memiliki keberanian untuk menghabiskan uang saya untuk film semacam itu.

      Glad to hear your opinion! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s