Review: Me and Orson Welles (2009)


Sama seperti halnya dengan Robert Pattinson, yang berusaha kuat untuk melepaskan image bintang tampan yang dicintai oleh banyak penggemar wanita karena penampilannya dalam seri Twilight, Zac Efron juga mengalami hal yang sama pasca penampilannya dalam seri High School Musical. Tentu saja, mereka tidak memerlukan penampilan yang akan menambah jumlah penggemar berat mereka. Mereka lebih ingin mendapatkan pengakuan dari para kritikus film dunia bahwa mereka memiliki bakat akting, daripada sekedar berwajah tampan, yang layak untuk diakui keberadaannya.

Me and Orson Welles adalah film pertama Efron di luar seri High School Musical (dengan tidak menghitung Hairspray dan 17 Again yang memiliki tema hampir serupa) dan disutradarai oleh Richard Linklater. Film ini sendiri diangkat dari sebuah novel laris berjudul sama yang ditulis oleh novelis asal Amerika Serikat, Robert Kaplow, yang menceritakan mengenai awal mula keberadaan Mercury Theater yang dimiliki oleh Orson Welles.

Tentu saja dengan tema yang diluar genre yang biasa ia perankan, pertanyaan apakah Efron akan dapat memerankan karakter yang ia perankan dengan baik akan muncul. Efron sendiri berperan sebagai Richard Samuels, remaja berusia 17 tahun pecinta musik, teater dan seni, yang berhasil mendapatkan peran kecil di sebuah drama yang diproduksi oleh sutradara teater kenamaan Amerika Serikat, Orson Welles (Christian McKay). Orson sendiri memproduksi adaptasi dari karya William Shakespeare, Julius Caesar, untuk ditampilkan pada pembukaan teater yang ia miliki, Mercury Theater.

Walau memiliki peran yang kecil, bukan berarti seluruh hal akan berjalan dengan mudah untuk Richard. Orson Welles dikenal sebagai figur yang sukar untuk dimengerti, meledak-ledak dan gampang merubah pemikirannya. Namun, Orson sebenarnya memiliki ketertarikan sendiri kepada Richard. Seringkali, Orson membawa Richard untuk dapat mengenalkannya lebih dalam pada dunia teater, baik itu mengenalkannya mengenai panggung teater maupun ke sebuah drama radio yang sedang ia produksi.

Lewat produksi drama Julius Caesar karya Orson Welles pula, Richard mengenal Sonja Jones (Claire Danes), wanita cantik yang berperan sebagai asisten produksi dari pembuatan drama teater itu. Awalnya ditugaskan untuk melatih Richard, hubungan Sonja dengan Richard lama-kelamaan menjadi semakin dekat. Ketika Sonja akhirnya mencium Richard, Richard akhirnya merasa bahwa ia dan Sonja sekarang telah berpacaran. Ketika satu malam sebelum pembukaan teater Sonja menghabiskan malamnya untuk menemani Orson, atas permintaannya, Richard mendatangi Orson dan menyatakan ketidaksukaannya. Hal ini kemudian memperenggang hubungan antara Richard dan Orson sekaligus mengancam posisi Richard dalam produksi drama teater tersebut.

Setelah menyaksikan Me and Orson Welles secara keseluruhan, pertanyaan yang tadi berada di seputar sosok Efron dan kemampuan aktingnya malah kini berbalik menjadi siapa aktor yang memerankan karakter Orson Welles dalam film ini. Christian McKay, bintang asal Inggris yang berperan sebagai Welles, ternyata mampu menunjukkan kelebihan tersendiri yang membuat karakter yang ia perankan, yang seharusnya berada pada posisi karakter pendukung, malah terlihat sebagai karakter utama karena dominasi kemampuan akting yang ia berikan terhadap peran sebagai Welles. Lewat akting dan daya tarik yang dibawakan McKay, semangat yang berapi-api dari seorang Orson Welles sangat dapat dirasakan disini. Ia mampu membuat para penonton jatuh cinta pada karakternya, walaupun ia telah menunjukkan beberapa sifat yang seharusnya membuat karakternya sangat dibenci.

Tidak, hal ini bukan berarti para penonton akan menyaksikan Efron berperan buruk sebagai tokoh ‘me’ dalam film ini. Efron berperan bagus. Walau masih memiliki karisma yang menyerupai Troy Bolton – peran yang ia mainkan di serial High School Musical – pada beberapa adegan, namun secara keseluruhan, Efron mampu tampil lebih dewasa dari yang pernah penonton lihat sebelumnya.

Dari awal hingga akhir film ini, sutradara Richard Linklater seperti terlihat berusaha mengenalkan bagaimana sebenarnya proses pembuatan sebuah drama teater kepada para penontonnya. Hal ini berjalan dengan sangat lancar sehingga ketika durasi film terus berjalan, dan para penonton terus dikenalkan dengan beberapa karakter yang ada di dalam produksi teater tersebut, para penonton benar-benar merasa telah dikenalkan kepada dunia teater dan berbagai hal yang terjadi selama proses pembuatannya.

Memang, sebagai sebuah drama, film ini juga menawarkan kisah drama percintaan. Yang terutama tentu saja antara tokoh Richard Samuels dengan Sonja Jones. Aktris Claire Danes dan Efron sendiri cukup memiliki chemistry yang membuat hubungan mereka terlihat cukup menarik. Efron juga terlihat mampu menjalin hubungan yang baik dengan Zoe Kazan, aktris yang memerankan karakter Greta Adler, wanita lain dalam kehidupan karakter Richard Samuels. Walau begitu, romansa sepertinya bukan bagian paling esensial dari Me and Orson Welles.

Salah satu momen yang akan paling banyak diingat dari film Me and Orson Welles adalah momen ketika pertunjukan drama Julius Caesar itu sendiri akhirnya ditampilkan di penghujung film. Sutradara Richard Linklater berhasil membawa kemeriahan dari acara pembukaan Mercury Theater dan rasa kekaguman para penonton terhadap drama yang dibawakan oleh Orson Welles dengan sangat baik. Begitu baiknya Linklater dalam menciptakan momen tersebut, ia akan membuat banyak penonton berharap bahwa mereka berada di dalam adegan itu, menyaksikan secara langsung pertunjukan teater dan turut merasakan bagaimana penampilan para aktor teater tersebut.

Adalah sangat mudah untuk menikmati Me and Orson Welles. Richard Linklater berhasil memberikan sebuah gambaran yang sangat sempurna mengenai proses pembuatan dari sebuah drama teater. Berbagai intrik yang ditampilkan di dalam jalan cerita, baik yang berada di dalam maupun diluar proses pembuatan drama teater tersebut, berhasil membuat film ini menjadi sebuah jendela tersendiri bagi penonton awam untuk mengetahui sedikit mengenai dunia teater. Tata teknis film ini juga sangat mendukung. Sebagai sebuah drama period, Me and Orson Welles tampil apik dalam tata kostum dan tata musik yang disajikannya. Didukung oleh kemampuan akting para jajaran pemerannya yang sangat baik — terutama penampilan sempurna Christian McKay sebagai Orson Welles – menjadikan Me and Orson Welles sebagai sebuah drama yang sangat menghibur dengan kualitas tingkat tinggi.

Rating: 4.5 / 5

Me and Orson Welles (Freestyle Releasing/Warner Bros., 2009)

Me and Orson Welles (2009)

Directed by Richard Linklater Produced by Ann Carli, Richard Linklater, Marc Samuelson Written by Holly Gent Palmo, Vincent Palmo, Jr. (screenplay), Robert Kaplow (novel) Starring Zac Efron, Christian McKay,  Claire Danes, Ben Chaplin, James Tupper, Eddie Marsan, Leo Bill, Kelly Reilly, Zoe Kazan, Al Weaver, Saskia Reeves, Imogen Poots  Music by Michael J McEvoy Cinematography Dick Pope Editing by Sandra Adair Distributed by Freestyle Releasing/Warner Bros. Running time 107 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Sama seperti halnya dengan Robert Pattinson, yang berusaha kuat untuk melepaskan image bintang tampan yang dicintai oleh banyak penggemar wanita karena penampilannya dalam seri Twilight, Zac Efron juga mengalami hal yang sama pasca penampilannya dalam seri High School Musical. Tentu saja, mereka tidak memerlukan penampilan yang akan menambah jumlah penggemar berat mereka. Mereka lebih ingin mendapatkan pengakuan dari para kritikus film dunia bahwa mereka memiliki bakat akting, daripada sekedar berwajah tampan, yang layak untuk diakui keberadaannya.

Me and Orson Welles adalah film pertama Efron di luar seri High School Musical (dengan tidak menghitung Hairspray dan 17 Again yang memiliki tema hampir serupa) dan disutradarai oleh Richard Linklater. Film ini sendiri diangkat dari sebuah novel laris berjudul sama yang ditulis oleh novelis asal Amerika Serikat, Robert Kaplow, yang menceritakan mengenai awal mula keberadaan Mercury Theater yang dimiliki oleh Orson Welles.

Tentu saja dengan tema yang diluar genre yang biasa ia perankan, pertanyaan apakah Efron akan dapat memerankan karakter yang ia perankan dengan baik akan muncul. Efron sendiri berperan sebagai Richard Samuels, remaja berusia 17 tahun pecinta musik, teater dan seni, yang berhasil mendapatkan peran kecil di sebuah drama yang diproduksi oleh sutradara teater kenamaan Amerika Serikat, Orson Welles (Samuel McKay). Orson sendiri memproduksi adaptasi dari karya William Shakespeare, Julius Caesar, untuk ditampilkan pada pembukaan teater yang ia miliki, Mercury Theater.

Walau memiliki peran yang kecil, bukan berarti seluruh hal akan berjalan dengan mudah untuk Richard. Orson Welles dikenal sebagai figur yang sukar untuk dimengerti, meledak-ledak dan gampang merubah pemikirannya. Namun, Orson sebenarnya memiliki ketertarikan sendiri kepada Richard. Seringkali, Orson membawa Richard untuk dapat mengenalkannya lebih dalam pada dunia teater, baik itu mengenalkannya mengenai panggung teater maupun ke sebuah drama radio yang sedang ia produksi.

Lewat produksi drama Julius Caesar karya Orson Welles pula, Richard mengenal Sonja Jones (Claire Danes), wanita cantik yang berperan sebagai asisten produksi dari pembuatan drama teater itu. Awalnya ditugaskan untuk melatih Richard, hubungan Sonja dengan Richard lama-kelamaan menjadi semakin dekat. Ketika Sonja akhirnya mencium Richard, Richard akhirnya merasa bahwa ia dan Sonja sekarang telah berpacaran. Ketika satu malam sebelum pembukaan teater Sonja menghabiskan malamnya untuk menemani Orson, atas permintaannya, Richard mendatangi Orson dan menyatakan ketidaksukaannya. Hal ini kemudian memperenggang hubungan antara Richard dan Orson sekaligus mengancam posisi Richard dalam produksi drama teater tersebut.

Setelah menyaksikan Me and Orson Welles secara keseluruhan, pertanyaan yang tadi berada di seputar sosok Efron dan kemampuan aktingnya malah kini berbalik menjadi siapa aktor yang memerankan karakter Orson Welles dalam film ini. Samuel McKay, bintang asal Inggris yang berperan sebagai Welles, ternyata mampu menunjukkan kelebihan tersendiri yang membuat karakter yang ia perankan, yang seharusnya berada pada posisi karakter pendukung, malah terlihat sebagai karakter utama karena dominasi kemampuan akting yang ia berikan terhadap peran sebagai Welles. Lewat akting dan daya tarik yang dibawakan McKay, semangat yang berapi-api dari seorang Orson Welles sangat dapat dirasakan disini. Ia mampu membuat para penonton jatuh cinta pada karakternya, walaupun ia telah menunjukkan beberapa sifat yang seharusnya membuat karakternya sangat dibenci.

Tidak, hal ini bukan berarti para penonton akan menyaksikan Efron berperan buruk sebagai tokoh ‘me’ dalam film ini. Efron berperan bagus. Walau masih memiliki karisma yang menyerupai Troy Bolton – peran yang ia mainkan di serial High School Musical – pada beberapa adegan, namun secara keseluruhan, Efron mampu tampil lebih dewasa dari yang pernah penonton lihat sebelumnya.

Dari awal hingga akhir film ini, sutradara Richard Linklater seperti terlihat berusaha mengenalkan bagaimana sebenarnya proses pembuatan sebuah drama teater kepada para penontonnya. Hal ini berjalan dengan sangat lancar sehingga ketika durasi film terus berjalan, dan para penonton terus dikenalkan dengan beberapa karakter yang ada di dalam produksi teater tersebut, para penonton benar-benar merasa telah dikenalkan kepada dunia teater dan berbagai hal yang terjadi selama proses pembuatannya.

Memang, sebagai sebuah drama, film ini juga menawarkan kisah drama percintaan. Yang terutama tentu saja antara tokoh Richard Samuels dengan Sonja Jones. Aktris Claire Danes dan Efron sendiri cukup memiliki chemistry yang membuat hubungan mereka terlihat cukup menarik. Efron juga terlihat mampu menjalin hubungan yang baik dengan Zoe Kazan, aktris yang memerankan karakter Greta Adler, wanita lain dalam kehidupan karakter Richard Samuels. Walau begitu, romansa sepertinya bukan bagian paling esensial dari Me and Orson Welles.

Salah satu momen yang akan paling banyak diingat dari film Me and Orson Welles adalah momen ketika pertunjukan drama Julius Caesar itu sendiri akhirnya ditampilkan di penghujung film. Sutradara Richard Linklater berhasil membawa kemeriahan dari acara pembukaan Mercury Theater dan rasa kekaguman para penonton terhadap drama yang dibawakan oleh Orson Welles dengan sangat baik. Begitu baiknya Linklater dalam menciptakan momen tersebut, ia akan membuat banyak penonton berharap bahwa mereka berada di dalam adegan itu, menyaksikan secara langsung pertunjukan teater dan turut merasakan bagaimana penampilan para aktor teater tersebut.

Adalah sangat mudah untuk menikmati Me and Orson Welles. Richard Linklater berhasil memberikan sebuah gambaran yang sangat sempurna mengenai proses pembuatan dari sebuah drama teater. Berbagai intrik yang ditampilkan di dalam jalan cerita, baik yang berada di dalam maupun diluar proses pembuatan drama teater tersebut, berhasil membuat film ini menjadi sebuah jendela tersendiri bagi penonton awam untuk mengetahui sedikit mengenai dunia teater. Didukung oleh kemampuan akting para jajaran pemerannya yang sangat baik — terutama penampilan sempurna Samuel McKay sebagai Orson Welles – menjadikan Me and Orson Welles sebagai sebuah drama yang sangat menghibur dengan kualitas tingkat tinggi.

Rating: 4.5 / 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s