Review: Glorious 39 (2009)

Nama Romola Garai mungkin banyak dikenal oleh publik setelah penampilannya yang menesankan sebagai Briony Talis remaja yang dipenuhi rasa bersalah di film Atonement. Aktris cantik asal Inggris berusia 27 tahun ini memang lebih banyak dikenal sering memilih film-film bertema period yang berskala kecil atau sebagai seorang aktris teater di negara asalnya.

Di Glorious 39, Garai kembali berperan dalam sebuah film period yang disutradarai oleh sutradara asal Inggris, Stephen Poliakoff. Nama Poliakoff sendiri di Inggris lebih banyak dikenal sebagai seorang sutradara teater, walaupun sebelum Glorious 39, ia juga sering menyutradarai serial televisi serta beberapa film layar lebar. Lewat film ini juga, Garai kembali bertemu dengan lawan mainnya di Atonement, Juno Temple.

Juga ditulis oleh Poliakoff, Glorious 39 berlatar belakang negara Inggris pada tahun 1939, ketika dunia sedang berada diambang perang Dunia II. Berkisah mengenai Anne Keyes (Garai), seorang aktris yang ketika kecil diadopsi oleh seorang politikus, Alexander (Bill Nighy), dan istrinya, Maud (Jennifer Agutter). Anne kecil sendiri diadopsi oleh pasangan Keyes ketika mereka berdua belum juga memperoleh keturunan setelah beberapa tahun menikah. Namun, setelah mengadopsi Anne, Maud akhirnya melahirkan dua orang anak, Ralph (Eddie Redmayne) dan Celia (Temple).

Dalam sebuah jamuan makan malam untuk sang ayah, seorang anggota parlemen, Hector (David Tennant), yang juga merupakan teman kekasih Anne, Lawrence (Charlie Cox), terlibat dalam adu argumentasi bersama Joseph Balcombe (Jeremy Northam). Perdebatan itu sendiri terjadi ketika Hector mengkritisi kinerja pemerintah yang diduganya mendukung pendanaan bagi Adolf Hitler untuk menginvasi seluruh negara Eropa dengan tujuan agar Inggris tidak digangu gugat keamanannya. Joseph, yang seorang pegawai pemerintahan, tentu membantah pernyataan ini dan menilai bahwa hal tersebut adalah sebuah isu yang dibuat oleh media. Perdebatan tersebut akhirnya ditengahi oleh Alexander.

Konflik cerita pada Glorious 39 secara perlahan mulai muncul ketika Anne, yang sering dipanggil Ralph sebagai Glorious, menemukan sebuah piringan hitam yang berisi percakapan politis antara beberapa orang. Ayahnya, Alexander, kemudian menjelaskan bahwa kumpulan piringan hitam yang berada di gudang tersebut merupakan milik Joseph yang sengaja disembunyikan disana tanpa sepengetahuannya. Alexander kemudian menerangkan bahwa ia akan meminta Joseph untuk memindahkan piringan hitam tersebut dari rumah mereka.

Dua minggu kemudian, Anne menerima kabar bahwa Hector ditemukan meninggal bunuh diri. Mengingat adu argumentasi yang terjadi antara Hector dan Joseph sebelumnya, serta perasaan ganjil yang selalu ia dapat ketika bertemu dengan Joseph, Anne mulai memiliki prasangka bahwa Joseph berada di balik kematian Hector. Beberapa hari berikutnya, Joseph bersama beberapa pegawai pemerintahan lainnya, datang untuk memindahkan piringan-piringan hitam tersebut. Walau begitu, karena rasa penasaran, Anne berhasil menyimpan beberapa diantaranya.

Tanpa diduga, salah satu piringan hitam tersebut berisi rekaman suara Hector yang sedang menelepon seseorang dan memohon agar orang tersebut tidak mengganggu kehidupannya dan keluarganya. Firasat Anne bahwa Joseph berada di balik kematian Hector semakin kuat. Piringan hitam kedua, yang berisi rekaman pembicaraan sebuah rapat politik ia berikan kepada sahabatnya, Gilbert (Hugh Bonneville). Beberapa hari kemudian, seperti halnya Hector, Gilbert juga ditemukan tewas dengan dugaan sebagai sebuah bunuh diri.

Kini Anne semakin diliputi oleh berbagai teka-teki. Setelah mendengarkan kembali isi rekaman piring hitam kedua, Anne malah menemukan fakta bahwa rapat tersebut adalah sebuah rapat yang diadakan oleh Joseph yang salah satu isi pembahasan di dalamnya adalah untuk menyingkirkan Hector. Lebih mengejutkan lagi, Anne menemukan bahwa adiknya, Ralph, adalah salah satu orang yang berada di dalam rapat tersebut. Anne pun akhirnya bertanya-tanya mengenai keluarganya, yang ia duga menyimpan sebuah rahasia besar yang juga berhubungan dengan rahasia keamanan negara Inggris.

Sebagai sebuah film thriller politik, Glorious 39 harus diakui akan mampu memenuhi ekspektasi para penontonnya. Walau dimulai dengan pace yang sedikit pelan dan kurang bergairah di awal film, secara perlahan Poliakoff berhasil membangun konstruksi ketegangan yang ingin ia berikan di sepanjang film ketika karakter utama, Anne, membuka berbagai selubung rahasia dari orang-orang terdekatnya. Seperti layaknya sebuah kereta api yang sedang akan bergerak, Glorious 39 kemudian melaju dengan pace yang cukup cepat namun tetap berhasil menjaga ketegangan yang ada di setiap plot cerita yang dilaluinya dengan baik.

Sayangnya, masalah justru muncul ketika Poliakoff hendak memberikan akhiran yang tepat untuk film ini. Ending yang dipilih Poliakoff serasa benar-benar menurunkan secara drastis tingkat ketegangan yang telah dibangun sebelumnya di sepanjang film. Apalagi setelah adegan twist yang ingin diberikan oleh Poliakoff ternyata malah akan memberikan kekecewaan yang luar biasa bagi mereka yang telah mengharapkan sebuah pilihan ending yang lebih pintar.

Didukung dengan nama-nama besar di jajaran pemerannya, menjadikan Glorious 39 mampu tampil meyakinkan di departemen aktingnya. Romola Garai kembali membuktikan bahwa dia adalah seorang aktris muda asal Inggris yang mungkin dapat diperhitungkan bagi Hollywood. Sebagai Anne, Garai tampil sempurna, wanita yang terlihat rapuh namun memiliki kekuatan didalam dirinya sendiri untuk tampil tangguh dalam memecahkan teka-teki yang berada dihadapannya. Nama-nama lain seperti Bill Nighy, Julie Christie, Charlie Cox, Juno Temple, Eddie Redmayne, Jeremy Northam dan Hugh Bonneville, juga mendukung kesolidan akting film ini.

Layaknya sebuah film period, sinematografi dan tata busana Glorious 39 berada pada posisi yang tidak mengecewakan. Walaupun belum berhasil memberikan pilihan gambar yang seindah film-film period karya Joe Wright, namun apa yang diberikan di film ini sama sekali tidak mengecewakan.

Hanya ada dua masalah yang dihadapi oleh Glorious 39. Film ini memiliki awalan yang sangat lamban dan sedikit kurang meyakinkan bagi para penontonnya untuk dapat terus bertahan mengikuti jalan cerita film ini. Namun, seperti yang disebutkan diatas, film ini kemudian mampu tampil sempurna, berjalan cepat seiring dengan semakin terbukanya berbagai rahasia yang dihadapi oleh karakter utamanya. Keunggulan ini terus terjadi hingga akhirnya Glorious 39 mencapai ending-nya, masalah kedua, yakni pemilihan ending yang sangat luar biasa mengecewakan, dengan pemilihan (inginnya menjadi sebuah) twist yang justru semakin memperparah kondisi ending film ini. Walau begitu, secara keseluruhan, Glorious 39 akan mampu memuaskan setiap penggemar film-film drama period maupun film-film yang mengandung unsur thriller politik.

Rating: 3.5 / 5

Glorious 39 (Momentum Pictures, 2009)

Glorious 39 (2009)

Directed by Stephen Poliakoff Produced by Barney Reisz, Martin Pope Written by Stephen Poliakoff Starring Romola Garai, Bill Nighy, Julie Christie, Charlie Cox, Christopher Lee, Jenny Agutter, Jeremy Northam, David Tennant, Juno Temple, Eddie Redmayne, Hugh Bonneville Music by Adrian Johnston Cinematography Danny Cohen Editing by Jason Krasucki Studio BBC Films/Magic Light Pictures/Quickfire Films/Talkback Thames Distributed by Momentum Pictures Running time 125 minutes Country United Kingdom Language English

Leave a Reply