Review: The Book of Eli (2010)

Sembilan tahun setelah merilis film terakhirnya, From Hell, duo sutradara Allen dan Albert Hughes kembali berada di balik layar untuk menghasilkan karya terbaru mereka, The Book of Eli. Tidak main-main, film yang naskahnya dikerjakan oleh Gary Whitta ini, mempertemukan dua aktor senior, Denzel Washington dan Gary Oldman, dalam sebuah cerita yang berlatar belakang masa sesudah kehancuran Bumi.

Film ini sendiri bercerita mengenai Eli (Denzel Washington), seorang pengelana yang mengelilingi Amerika Serikat di masa 30 tahun setelah sebuah kejadian menyebabkan kehancuran fatal pada Bumi. Eli sendiri memiliki tujuan untuk mengantarkan sebuah buku yang ia pegang kepada seseorang yang ia percaya merupakan orang yang berhak untuk menjaga keberadaan buku itu.

Terus berjalan menuju arah Barat, Eli singgah di sebuah kota untuk mengisi persediaan air minumnya. Ia tentu saja tidak akan menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Carnegie (Gary Oldman), seorang pria ambisius yang berniat untuk mendirikan lebih banyak kota dan menjadi penguasa penuh dengan bimbingan sebuah buku yang selama ini ia cari-cari. Menyadari bahwa buku yang ia cari selama ini ada berada di tangan Eli, tentu saja membuat Carnegie tidak tinggal diam. Bersama seluruh kelompoknya, ia menyerang Eli. Untungnya percobaan pembunuhan terhadap Eli tersebut gagal dilakukan.

Eli akhirnya melanjutkan perjalanannya. Tanpa sepengetahuannya, Eli ternyata diikuti oleh Solara (Mila Kunis), seorang gadis yang dikenalnya di kota sebelumnya. Walau pada awalnya tidak mau diikuti oleh Solara, Eli dan sang gadis akhirnya menjadi akrab dan saling melindungi satu sama lain. The Book of Eli kemudian menceritakan bagaimana Eli dan Solara menemui dan menghadapi berbagai halangan selama perjalanan mereka menuju Barat, termasuk halangan kembali dari Carnegie yang tentu saja masih besar berhasrat untuk memiliki buku tersebut.

Bagi mereka yang telah menyaksikan The Road sebelumnya, The Book of Eli mungkin akan mengingatkan mereka pada film tersebut. Jika pada The Road sang tokoh utama berusaha untuk menyelamatkan dan melindungi seorang anak, maka pada The Book of Eli sang tokoh berusaha untuk menyelamatkan dan melindungi sebuah… errr… buku. Tambahkan beberapa adegan aksi senjata dan sedikit darah, maka The Book of Eli akan sangat mengingatkan pada film Viggo Mortensen yang juga bertema masa sesudah kehancuran Bumi tersebut.

Tentang filmnya sendiri, sebenarnya tidak ada yang banyak ditawarkan. The Hughes Brothers bekerja sangat baik dalam menata setting cerita yang membuat suasanan masa kehancuran Bumi di film ini serasa sangat nyata. Beberapa adegan perkelahian yang ditampilkan juga tertata baik. Tidak terlalu berlebihan, namun diberikan dengan kadar yang cukup sehingga membuat para penonton, khususnya mereka yang gemar akan adegan-adegan aksi, dapat merasa terpuaskan.

Masalah utama dari film ini sebenarnya berada di naskahnya yang hanya terfokus pada kisah perjalanan Eli menuju daerah Barat. Naskah cerita begitu terfokus pada bagian tersebut sehingga tidak memberikan kesempatan pada penonton untuk mengenal siapa karakter-karakter yang berlalu lalang di sepanjang cerita film ini. Penonton bahkan tidak mengetahui siapa nama karakter yang diperankan oleh Denzel Washington hingga di penghujung film.

Dua aktor utama film ini, Washington dan Oldman, berhasil menghidupkan karakter mereka dengan sangat baik. Oldman contohnya, mampu menghidupkan karakternya sebagai seorang bad guy yang dapat melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya. Washington juga berada di posisi yang sama ketika memerankan tokoh protagonis utama di film ini. Walau lagi-lagi sepertinya Washington memerankan seorang karakter yang tidak terlalu berbeda dengan beberapa karakter yang ia perankan sebelumnya, namun Washington sebagai Eli cukup dapat meyakinkan para penontonnya.

Dua pendamping utama lainnya, Jennifer Beals dan Mila Kunis juga terlihat mampu mengimbangi akting Oldman dan Washington. Karakter yang diperankan Beals mampu mengimbangi karakter jahat yang diperankan Oldman, dan Kunis, walaupun terlihat sedikit kurang meyakinkan di beberapa degan, namun mampu secara perlahan menjadi seorang side-kick yang baik bagi karakter yang diperankan Washington.

Memiliki jalan cerita yang sempit namun ditampilkan dengan durasi sepanjang 117 menit membuat The Book of Eli menjadi sebuah perjalanan yang terlalu melelahkan. The Hughes Brothers memang berhasil menempatkan beberapa adegan aksi yang tajam serta menata latar suasana masa kehancuran Bumi yang terasa nyata, namun tetap saja hal tersebut tidak begitu membantu lemahnya jalan cerita yang sudah ada. Untungnya, jajaran pemeran film ini berhasil membawakan karakternya dengan baik, dipimpin oleh penampilan prima dari duo Denzel Washington dan Gary Oldman. Walau tidak istimewa, The Book of Eli masih cukup mumpuni untuk dinikmati.

Rating: 3 / 5

The Book of Eli (Alcon Entertainment/Silver Pictures/Warner Bros./Columbia Pictures/Entertainment Film Distributors/Summit Entertainment, 2010)

The Book of Eli (2010)

Directed by Albert Hughes, Allen Hughes Produced by Joel Silver, Susan Downey, Andrew Kosove, Broderick Johnson, Denzel Washington Written by Gary Whitta Starring Denzel Washington, Gary Oldman, Jennifer Beals, Mila Kunis Music by Atticus Ross Cinematography Don Burgess Editing by Cindy Mollo Studio Alcon Entertainment/Silver Pictures Distributed by Warner Bros./Columbia Pictures/Entertainment Film Distributors/Summit Entertainment Running time 117 minutes Country United States Language English

4 thoughts on “Review: The Book of Eli (2010)”

  1. Satu dari sekian karya Hollywood dengan setting masa depan yang kacau. Dan knapa mau melindungi buku yang berisi pesan damai mesti dengan darah?
    Meski begitu twist nya oke sih, gak ada yang nyangka.

Leave a Reply