Review: Senseless (2008)

Diangkat dari sebuah novel berjudul sama karya penulis Stona Fitch, Senseless adalah sebuah film thriller yang memiliki latar belakang yang sama dengan film-film thriller semacam Saw maupun Hostel. Perbedaannya, karena film ini diadaptasi dari sebuah novel, akan ada banyak sisi cerita yang diangkat selain dari adegan-adegan penyiksaan yang sepertinya menjadi menu utama di film-film thriller seperti ini.

Mengisahkan mengenai Elliott Gast (Jason Behr), seorang pengusaha asal Amerika Serikat yang sedang berada di Perancis untuk menemui para klien bisnisnya. Ketika pulang dari sebuah perjamuan makan, ia tiba-tiba saja diculik oleh sekelompok orang, yang kemudian menempatkannya di sebuah ruangan terisolir. Ternyata, kelompok tersebut berniat lebih dari sekedar menculik. Mereka juga berniat menyiksa Elliott dan menyiarkan adegan-adegan penyiksaan tersebut ke seluruh dunia sebagai upaya untuk mendapatkan uang.

Elliott sendiri tentu saja merasa heran mengapa harus ia yang mendapatkan penyiksaan tersebut. Blackbeard (Joe Ferrara), sang pemimpin kelompok tersebut menggunakan alasan politis, bahwa Elliott berasal dari Amerika Serikat, sebuah negara yang seringkali melakukan penindasan negara lain. Sementara Elliott sendiri, menurut Blackbeard adalah salah satu orang terpenting bagi perekonomian Amerika Serikat, yang akan menjadikan tontonan penyiksaaan yang disiarkan oleh Blackbeard dan teman-temannya akan menjadi sangat populer.

Blackbeard menyatakan pada Elliott bahwa ia adalah salah seorang manusia yang paling penting dan paling beruntung di dunia, atas kemampuan panca indera Elliott yang digunakannya dalam bisnisnya. Untuk itu, Blackbeard akan melakukan penyiksaan terhadap Blackbeard untuk menghilangkan fungsi dari kelima indera tersebut di tubuh Elliott.

Sementara itu, puluhan kamera yang berada di ruangan tersebut, menayangkan ke seluruh dunia proses penyiksaan Elliottt. Hal ini, menurut Blackbeard, ternyata sangat disukai oleh banyak orang, yang dibuktikan dengan banyaknya jumlah uang yang masuk sekaligus berbagai saran yang ia terima mengenai apa yang harus dilakukan dengan Elliott. Berita mengenai penyekapan dan penyiksaan Elliott sendiri telah semakin luas di media luar dengan semakin banyaknya pula kelompok-kelompok yang meminta agar Elliott untuk dibebaskan.

Dengan memasukkan tema politis, sutradara Simon Hynd sebenarnya bisa saja mengembangkan plot cerita film ini menjadi lebih menarik dan lebih berkualitas daripada film-film sekelas Saw maupun Hostel. Namun sayangnya, sepertinya Hynd hanya membuat film ini secara setengah hati. Beberapa bagian film yang seharusnya ada di dalam cerita, sepertinya ditinggalkan begitu saja oleh Hynd.

Contohnya adalah reaksi dunia luar terhadap penyekapan Elliott. Senseless sama sekali tidak menampilkan bagaimana sebenarnya reaksi dunia terhadap kejahatan ini. Penonton hanya tahu bahwa kejadian tersebut telah menarik perhatian dunia melalui perkataan Blackbeard. Yang lebih sial lagi, ketika film ini mau disamakan dengan Saw maupun Hostel, film ini sama sekali tidak memiliki amunisi darah dan kesadisan yang sama dengan kedua film tersebut. Selain karena jalan ceritanya telah diambil oleh berbagai adegan flashback Elliott mengenai masa lalunya, film ini hanya menampilkan beberapa adegan penyiksaan — yang memang tetap saja sedikit mengerikan — yang terasa kurang memenuhi harapan.

Jalan cerita film ini memang terasa lemah. Kurangnya eksplorasi terhadap latar belakang kejadian sendiri menyebabkan Senseless menjadi sebuah tontonan datar yang terkadang terkesan menjadi terlalu dibuat-buat dan sukar untuk diterima oleh akal sehat.

Sisi akting yang lemah juga semakin memperjelas alasan mengapa film ini hanya beredar secara singkat di Inggris, sebelum akhirnya rilis langsung ke DVD di Amerika Serikat pada akhir 2009 lalu. Jason Behr, bintang utama film ini, sekaligus fokus utama jalannya cerita, sepertinya kurang memiliki daya tarik yang kuat untuk dipasang sebagai tokoh utama. Terkadang akting Behr terasa datar, terkadang lagi aktingnya terasa berlebihan, walaupun harus diakui terkadang ia juga berhasil memberikan improvisasi yang tepat. Yang paling mengesalkan tentu saja karakter Blackbeard, yang sangat berpotensi membuat Anda melempar televisi Anda. Layaknya Jigsaw di franchise Saw, Blackbeard seringkali memberikan falsafah-falsafah politis pada Elliott. Sayangnya, hal tersebut diberikan dengan akting yang mengesalkan dan sangat tidak meyakinkan sehingga kebanyakan penonton akan sangat tidak menyukai kehadiran Blackbeard.

Jalan cerita kurang berdarah, dengan drama yang kurang tertata dan akting yang sangat sederhana, Senseless sepertinya hanya akan berakhir sebagai sebuah tayangan yang terasa sangat menghabiskan waktu saja. Film ini sebenarnya tidak buruk, namun sama sekali tidak menawarkan apapun kepada para penontonnya.

Rating: 1.5 / 5

Senseless (Matador Pictures/Plum Films/Circle of Confusion/Regent Capital/Shoreline Entertainment, 2008)

Senseless (2008)

Directed by Simon Hynd Produced by Micky McPherson, Nigel Thomas Written by Simon Hynd (screenplay) Stona Fitch (novel) Starring Jason Behr, Emma Catherwood, Joe Ferrara Music by Ian Cook Cinematography Trevor Brooker Editing by Christopher Downie, Bill Gill Studio Matador Pictures/Plum Films/Circle of Confusion/Regent Capital/Shoreline Entertainment Distributor Shoreline Entertainment Running time 87 minutes Country United Kingdom Language English

Leave a Reply