Review: Jamila dan Sang Presiden (2009)

Jamila dan Sang Presiden adalah sebuah film layar perdana karya sutradara Ratna Sarumpaet, yang mungkin lebih dikenal sebagai seorang sutradara teater serta aktivis perempuan. Naskah cerita film ini sendiri diadaptasi Ratna dari karya teaternya yang berjudul Pelacur dan Sang Presiden, yang sempat meraih banyak pujian sekaligus kritikan dari beberapa pihak di Indonesia selama masa pementasannya.

Ratna sendiri pernah menceritakan bahwa kisah Pelacur dan Sang Presiden berawal dari rasa keprihatinannya atas kekurangpedulian pihak pemerintah mengenai kasus penjualan anak di bawah umur yang banyak terjadi di berbagai daerah terpencil di Indonesia. Ratna sendiri pernah berkelana ke Batam, Solo, Indramayu, Surabaya, dan kota-kota di Kalimantan, untuk merekam beragam cerita dari ratusan ribu korban perempuan yang kemudian disatukannya dalam cerita Pelacur dan Sang Presiden yang kemudian ia pentaskan.

Hidup bukanlah suatu hal yang dapat dihargai dan dianggap sesuatu yang indah dan bermakna bagi seorang Jamila (Atiqah Hasiholan). Datang dari sebuah keluarga miskin, ketika berumur enam tahun, ia dijual oleh sang ayah kepada seorang agen perdagangan anak. Ia kemudian berhasil melarikan diri dan kembali kepada kedua orangtuanya. Oleh sang ibu, ia dititipkan kepada sebuah keluarga, dengan harapan agar Jamila dapat dibesarkan dan disekolahkan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Apa yang mau dikata, di rumah tersebut ia malah menjadi bulan-bulanan seksual bagi dua orang pria yang seharusnya melindungi Jamila dan dijadikannya sebagai keluarga baru baginya. Merasa tertekan dan tak tahan lagi, Jamila melarikan diri. Berbagai penderitaan hidup terus dihadapinya sendirian hingga akhirnya ia bertemu dengan Susi (Ria Irawan), seorang pelacur yang kemudian dekat dengannya dan dianggapnya sebagai satu-satunya teman baiknya.

Berkenalan dengan Susi, akhirnya Jamila memilih untuk masuk ke dunia hitam dan menjadi seorang pelacur. Dari sinilah ia bertemu Nurdin (Adjie Pangestu), seorang menteri negara yang kemudian jatuh cinta dengannya. Hidup serasa mulai berputar ke arah yang lebih baik bagi Jamila, hingga suatu saat, ia menemukan bahwa Nurdin telah menikah dengan wanita lain dengan alasan dijodohkan orangtuanya. Secara tidak sengaja, Jamila menembakkan sebuah peluru ke arah Nurdin ketika ia dan Nurdin sedang bertengkar, yang menyebabkan kematian Nurdin.

Kematian Nurdin, yang seorang menteri negara, tentu saja menyebabkan seluruh masyarakat gempar. Apalagi setelah masyarakat menemukan bahwa Jamila, seorang pelacur, kemudian menyerahkan dirinya kepada pihak kepolisian dan mengakui kesalahannya telah membunuh Nurdin. Jamila akhirnya dipenjarakan. Kasusnya menarik perhatian seluruh negeri, sekaligus menarik simpati beberapa kalangan, yang berusaha memintakan grasi bagi Jamila. Walau begitu, Jamila tak bergeming dan menolak untuk mengajukan grasi pada presiden. Ia lebih memilih untuk dihukum mati dan terlepas dari seluruh penderitaan hidupnya selama ini.

Di negara dimana sebuah film dengan naskah kuat dan sedikit provokatif adalah sangat jarang ditemukan, tentu Jamila dan Sang Presiden bagaikan sebuah nafas segar di dunia perfilman. Apalagi jika naskah tersebut lumayan berhasil dieksekusi dengan sangat baik oleh sang sutradara, maupun oleh para jajaran pemerannya. Di Indonesia, hal tersebut hanya terjadi sekali dalam jangka beberapa tahun. Jamila dan Sang Presiden adalah salah satu yang berhasil melakukannya.

Dimulai dengan sedikit meragukan (akting yang kurang stabil, dialog naskah yang terasa sangat kaku di beberapa adegan), Jamila dan Sang Presiden kemudian secara perlahan lepas landas dengan gerakan yang stabil dalam menceritakan kisahnya. Harus diakui, nafas aktivis perempuan yang dibawa oleh Ratna Sarumpaet sangat terasa di beberapa bagian naskah film ini. Adalah sangat jelas untuk melihat film ini mencoba menyindir beberapa pihak (selain negara) yang selama ini sering keluar-masuk pemberitaan atas tindakan mereka yang kontroversial. Walau terkesan hanya dibuat dari satu sudut pandang, namun setidaknya Jamila dan Sang Presiden tidak langsung serta merta menjadi sebuah film dengan nada ‘balas dendam’ terhadap pihak-pihak yang disindir di sepanjang film.

Beberapa kekurangan juga dapat dirasakan pada film ini. Ratna, yang sebelumnya belum pernah bersentuhan dengan dunia film dan penulisan naskah film, mungkin masih terbawa-bawa akan gaya pembawaan teater ketika mengarahkan film ini. Ini yang membuat beberapa bagian dialog pada Jamila dan Sang Presiden terasa begitu kaku. Faktor penokohan beberapa karakter juga sepertinya sangat kurang tergali oleh Ratna. Beberapa karakter yang muncul di dalam cerita, bisa tiba-tiba muncul, mengambil perannya dalam jalan cerita tanpa diceritakan mengapa karakter tersebut ada, dan kemudian menghilang. Memang, Jamila adalah tokoh sentral film ini, ditambah dengan beberapa karakter pendukung lainnya. Namun dengan terlalu berfokus pada Jamila, membuat Ratna sepertinya melupakan bahwa karakter-karakter lainnya juga butuh pengembangan dan tidak diletakkan hanya sebagai tempelan di dalam film tersebut.

Sebagai sebuah karya teater yang diangkat ke layar lebar, Ratna tentu saja tidak akan melupakan bahwa penampilan para pemeran setiap karakter di film ini, dapat mempengaruhi hasil akhir dari kualitas Jamila dan Sang Presiden. Untuk itu, Ratna memilih berbagai nama-nama besar dan dengan jaminan kualitas akting yang sangat memadai untuk menghidupkan setiap karakter di film ini. Nama-nama seperti Christine Hakim, Surya Saputra, Ria Irawan, Ade Irawan, Marcelino Lefrandt, Dwi Sasono, Eva Celia Latjuba dan dipimpin oleh Atiqah Hasiholan yang memerankan karakter Jamila, film ini benar-benar menjadi salah satu film dengan jajaran akting yang sangat memukau di film Indonesia (walaupun mungkin Anda akan menilai bahwa Fauzi Baadilla sedikit berlebahan dalam mengeksplorasi karakter yang ia mainkan.

Walau kurangnya eksplorasi beberapa karakter dan terlalu kakunya beberapa baris dialog di beberapa adegan terasa cukup mengganggu, namun naskah film yang kuat, provokatif dan menyentuh serta akting yang sangat baik dari jajaran pemeran film ini, membuat Jamila dan Sang Presiden adalah sebuah debut penyutradaraan film layar lebar yang lumayan berhasil bagi Ratna Sarumpaet. Film bertema sosial politik yang seharusnya lebih banyak lagi dibuat oleh para pembuat film asal Indonesia.

Rating: 3.5 / 5

Jamila dan Sang Presiden (Satu Merah Panggung/MVP Pictures, 2009)

Jamila dan Sang Presiden (2009)

Directed by Ratna Sarumpaet Produced by Ratna Sarumpaet, Raam Punjabi Written by Ratna Sarumpaet Starring Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Eva Celia Latjuba, Dwi Sasono, Fauzi Baadila, Surya Saputra  Music by Thoersi Argeswara Editing by Sastha Sunu
Distributor Satu Merah Panggung/MVP Pictures Running time 87 menit Country Indonesia Language Indonesian

2 thoughts on “Review: Jamila dan Sang Presiden (2009)”

Leave a Reply