The Best Picture Complex!

Avatar atau The Hurt Locker? Team Cameron or team Bigelow? Selama hampir sebulan setelah nominasi Academy Awards diumumkan, semua orang mungkin telah mendengar banyak ‘konspirasi’ maupun ‘teori’ mengenai film mana yang akan memenangkan kategori ini. Tapi kurang dari seminggu sebelum pelaksanaan acara puncak (Minggu, 7/3), mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan kategori utama dari Academy Awards… Best Picture.

Well… jika saya yang memutuskan film mana yang akan memenangkannya, terus terang saya akan memilih Up. Lupakan keinginan pribadi dan memilih berdasarkan analisa yang ada, hanya ada empat film yang berpeluang memenangkan penghargaan ini: sang kuda hitam Inglourious Basterds, mantan calon pemenang terkuat empat bulan lalu Up in the Air, film kesayangan para kritikus The Hurt Locker, dan film kesayangan para penonton Avatar.

Yang membuat proses prediksi sedikit sukar adalah tahun ini, selain memilih 10 film untuk masuk di kategori Best Picture, pihak Academy juga memasukkan peraturan baru untuk pemilihan pemenang kategori Best Picture, yakni menggunakan referrential ballot. Para juri diberikan ballot pemilihan film kemudian menuliskan 10 urutan film yang mereka inginkan menang berdasarkan daftar nominasi yang ada. Film yang berada di nomor satu merupakan film yang paling diinginkan menang dan sebaliknya film yang berada di posisi 10 adalah film yang paling tidak diinginkan menang.

Proses pemilihan pemenang akan dilakukan secara manual, sekali lagi, menggunakan cara manual, bukan menggunakan komputer. AMPAS akan menyediakan 10 kotak kosong yang mewakili masing-masing judul film. Pihak PricewaterhouseCoopers (pihak auditor yang menghitung ballot Oscar) hanya akan memasukkan lembaran ballot ke dalam kotak sebuah film jika film tersebut mendapatkan posisi nomor satu di lembaran tersebut. Singkatnya, jika Anda memilih film A sebagai film nomor satu pilihan Anda, maka kertas suara Anda akan dimasukkan pada kotak A dan seluruh suara untuk film lainnya akan hangus. Perhitungan akan terhenti bila satu kotak film telah memperoleh perolehan sebanyak 2889 lembar suara (setengah dari total juri Academy), dan film tersebut akan memenangkan kategori Best Picture.

Masalah dimulai ketika tak satupun film yang berhasil mencapai kuota tersebut. maka perhitungan tahap kedua akan dimulai. Film dengan perolehan nomor 1 paling sedikit akan dinyatakan gugur dan dicoret dari perlombaan. Auditor akan mengambil kertas suara yang ada di kotak film yang telah gugur tersebut, mencoret film yang berada di posisi 1, dan akan menganalisa film apa yang berada di posisi 2. Jika kertas suara tersebut menuliskan ia memilih film A sebagai film pilihan nomor duanya, maka kertas suara tersebut akan dimasukkan ke kotak film A. Lagi, dengan tambahan surat suara tersebut, perhitungan akan terhenti bila satu kotak film telah memperoleh perolehan sebanyak 2889 lembar suara (setengah dari total juri Academy), dan film tersebut akan memenangkan kategori Best Picture.

Belum ada? Dari 9 film yang tersisa, auditor akan kembali mencoret film dengan perolehan nomor 1 paling sedikit, mengambil kertas suara dari kotak tersebut, mencoret posisi nomor 1, dan kembali menganalisa film yang berada di posisi nomor 2. Pihak auditor akan terus melakukan tahap eliminasi ini hingga satu kotak film berisi 2889 lembar suara dan film tersebut akan dinyatakan sebagai pemenangnya. Jadi, sejujurnya, hanya film yang berada di posisi 1 (atau posisi 2 – jika diperlukan) yang benar-benar diperhitungkan.

Kembali kepada 4 film unggulan, Up in the Air, menurut saya adalah yang paling lemah diantara keempat film ini. Bukan, saya bukan berbicara mengenai kualitas salah satu film terbaik sepanjang tahun 2009 tersebut. Namun Up in the Air benar-benar telah kehilangan momentumnya. So… there goes Up in the Air‘s chances… floating… up in the air.

Tiga film terakhir adalah jebakan. Anda bisa saja mengatakan Avatar atau The Hurt Locker yang memenangkan kategori ini, namun Anda tidak bisa menyepelekan kehadiran Inglourious Basterds. Hal-hal yang tidak dimiliki Avatar maupun The Hurt Locker ada di film ini. Berbeda dengan Avatar, Inglourious Basterds memiliki naskah yang kuat (Oscar memberikan nominasi Best Original Screenplay untuk Inglourious Basterds). Jajaran pemeran Inglourious Basterds juga telah diakui para kritikus (Screen Actors Guild Awards memberikan mereka Outstanding Performance by a Cast, dan Academy Awards memberikan sebuah nominasi akting untuk Christoph Waltz di kategori Best Actor in a Supporting Role) sementara Avatar… hmmm… yahhh… Untuk kualitas, The Hurt Locker memang dapat bersanding dengan Inglourious Basterds (kedua film ini sama-sama memperoleh nominasi di kategori akting dan sama-sama bertarung di kategori Best Original Screenplay. Namun The Hurt Locker tidak akan dapat mengalahkan perolehan keuntungan yang diperoleh Inglourious Basterds. Inglourious Basterds memiliki percampuran semua keunggulan yang dimiliki Avatar dan The Hurt Locker.

And here comes The Hurt Locker… sebuah film kecil yang ketika pertama kali dirilis sama sekali tidak mampu berkata banyak di peruntungan komersialnya. Namun, film ini berhasil meraih momentumnya dari banyak ajang penghargaan yang digelar oleh perkumpulan para kritikus di akhir tahun. Perlahan-lahan, film ini mendapatkan kekuatannya dan rekognisi dari banyak orang. Bersaing dengan Up in the Air, film ini merebut banyak penghargaan dari para kritikus, sekaligus berada di banyak daftar 10 film terbaik para kritikus film dunia sepanjang tahun lalu. Avatar tentu saja tidak banyak tercatat karena masa rilisnya yang sudah melewati tenggat waktu perilisan dafta 10 film terbaik para kritikus. Yang membuat film ini tetap bertahan di arena persaingan (tidak seperti Up in the Air yang perlahan-lahan tenggelam) adalah kharisma sang sutradara, Kathryn Bigelow. The Hurt Locker adalah sebuah film keras, bertema perang, namun mampu menyisipkan sesuatu yang jarang sebuah film bertema perang lainnya hasilkan: nilai-nilai personal yang sangat menyentuh banyak penontonnya. Disinilah fungsi Bigelow sebagai sang sutradara. The Hurt Locker bukanlah sebuah film perang yang mencari-carai apa penyebab perang tersebut, menyalahkan satu kelompok, atau mengisahkan perjuangan sebuah angkatan bersenjata di arena perang. The Hurt Locker mengisahkan bagaimana seseorang di arena perang dan bagaimana perang tersebut dapat secara perlahan merubah orang tersebut.

Seperti yang mungkin banyak orang tahu, Academy Awards tidak selalu memilih sebuah film yang selama satu tahun ke belakang dinilai paling baik di kalangan kritikus film dunia. Wajar saja sebenarnya karena susunan juri-juri AMPAS terdiri dari mereka para pekerja film seperti dari kalangan produser, sutradara, editor, dan lainnya, termasuk kalangan aktor, yang merupakan kelompok terbesar dari juri AMPAS. Ini tentu saja menjelaskan mengapa Titanic memenangkan Best Picture di tahun 1997 ketika seluruh kritik memprediksi bahwa L.A. Confidential akan memenangkan kategori yang sama. Dari sisi inilah, Avatar, film dengan perolehan keuntungan dan kepopuleran terbesar saat ini memperoleh keuntungannya. Dari sisi teknikal, jelas Avatar akan memiliki peluang paling besar untuk memenangkan Best Picture. Jika bukan karena naskah film ini yang sangat lemah (akting tidak dapat dihitung karena AMPAS belum mengenal akting lewat CGI sebagai sesuatu yang patut diperhitungkan), mungkin Avatar adalah film terbaik sepanjang tahun lalu.

Jadi… apakah kita bisa langsung ke kesimpulan akhir film mana yang akan saya prediksi sebagai pemenang Best Picture? Avatar! Sejujurnya, jika saya menjadi salah satu pengisi kertas ballot Oscar tersebut, saya akan meletakkan Up di posisi 1 dan Avatar di posisi 10 diantara daftar film-film yang dinominasikan. Tapi mari melihat fakta yang ada…

  • The Hurt Locker (dan Up in the Air) memenangkan seluruh penghargaan para kritiknya ketika Avatar belum dirilis. Hal ini membuat peluang The Hurt Locker menang berdasarkan penilaian kritikus sedikit kabur karena penilaian yang sama tidak bisa diberlakukan pada Avatar.
  • Berhubungan dengan poin di atas, kritikus adalah bagian yang sangat, sangat, sangat kecil dari AMPAS. AMPAS diisi oleh para pekerja film, sebagian dari mereka merupakan bagian teknikal yang akan mengakui pencapaian yang dilakukan James Cameron pada Avatar.
  • 2009 adalah tahun kebangkitan film science fiction. Star Trek, District 9 dan Avatar berhasil merebut perhatian penonton sekaligus penilaian bagus para kritikus. Adalah sangat jarang bagi Academy Awards untuk menominasikan sebuah film ber-genre ini, dan ketika kesempatan ini akhirnya datang, science fiction datang dengan kekuatan terbesarnya. Avatar akan menjadi film science fiction pertama yang memenangkan Best Picture.
  • Semua mata tertuju pada pertarungan Avatar dan The Hurt Locker yang sama dengan pertarungan antara James Cameron dan Kathryn Bigelow yang sama dengan pertarungan antara mantan suami istri. Bigelow akan mengalahkan Cameron di kategori Best Director dan Cameron akan memenangkan Oscar sebagai produser dari Avatar.
  • Errr… Avatar memecahkan rekor pendapatan sebuah film pemenang Best Picture terlaris sepanjang masa. Dan Avatar akan menggantikan posisi film tersebut untuk memegang titel film pemenang Best Picture terlaris sepanjang masa.

So… there you go. Saya memprediksikan Avatar akan memenangkan Best Picture di samping beberapa Oscar lainnya yang akan diraih melalui kategori teknikal. Bagaimana dengan Anda?

6 thoughts on “The Best Picture Complex!”

  1. Good reviews….! Walaupun sebenernya aku jagoin best picture-nya adalah ‘the hurt locker’, kathryn bigelow bakal jadi best director, dan ‘avatar’ akan sapu bersih semua kategori technical…. Tapi setelah baca ulasan diatas…hm,masuk akal juga kalo academy memenangkan picture utk avatar & director utk kathryn…. Well,we’ll see on March 7… Oya,review kategori lainnya juga dong…pasti seru!

    1. The Hurt Locker saya rasa masih memiliki kesempatan besar untuk menang. Menurut saya, perbedaan suara antara The Hurt Locker dan Avatar gak akan jauh-jauh amat. Untuk kategori lain, ntar ada juga koq. Cuma gak analisis per-kategori. Buat yang ini aja udah hampir gak tidur nyusun kalimatnya… :malu

  2. gw juga memprediksi avatar akan menang, tapi klo dari segi personal, gw menjagokan Basterds…tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, siapapun yang menang gw akan menerima, dan tidak mengambil pusing lantas “bunuh diri” ketika film jagoan gw kalah…

    bagi gw Oscar itu cuma “numpang lewat”, seperti layaknya film, ajang penghargaan ini adalah sebuah hiburan juga, tapi bukan berarti gw tidak menghargai film2 yang dinominasikan atau para pemenang atau tidak menyukai Oscar… I love the oscar dan berbagai award lainnya.

    yang membuat gw kecewa adalah, ketika ada “orang di luar sana” yang ketika avatar rilis sangat mendewakan sampai nonton berulang kali, namun ketika tiba waktunya Oscar mengumumkan nominasinya. Avatar justru dimaki-maki (diturunkan derajatnya) karena dia cuma asal ikut2an orang lain yang mendukung entah itu Hurt Locker atau Up in The Air…

    anyway great article, komplit sampai ada alasan adan fakta2 kenapa suatu film harus menang dan mengalah…salut, karena gw sendiri belum bisa secermat ini untuk memprediksi film-film yang akan menang…

    kok ini macam curhat yah LOL 😀

    1. Hihihi… Yahhh… seperti yang saya bilang itu, paman. Academy gak bisa selalu menjadi barometer film terbaik. Ada kalanya benar, ada kalanya hanya menjadi kontes popularitas. nyway, setiap penghargaan film memang jadi ajang adu popularitas koq. Kalau gak rajin-rajin promosiin filmnya, para juri belum tentu sadar akan keberadaan film itu (alasan kenapa film Indonesia selalu gagal masuk nominasi Best Foreign Language).

      Ckckckc… sepertinya akhir-akhir ini sering curhat colongan yah lewat komentar-komentar yang diberikan… :p

  3. Maaf Mas kalo pengen jadi juri di Academy award terus bisa masukin di box ke film favorit itu giman caranya,…kan tersebar keseluruh dunia …bisa dapet tiket gratis nonton donk buat nialainya…jelasin ya mas.. thx

    1. Hmmm… untuk menjadi anggota juri haruslah menjadi anggota Association of Motion Pictures Arts and Sciencies. Anggotanya sendiri terdiri dari mereka pekerja film, mulai para teknisi, sutradara, penulis naskah hingga para aktor. Sebagai juri, mereka memang diberikan ‘akses’ untuk menonton film-film yang dalam masa penilaian secara gratis, baik melewati DVD screener maupun ketika tayang di bioskop. Tertarik untuk menjadi juri Oscar-kah? =)

Leave a Reply