Review: Paris 36 (2009)

Perancis mungkin adalah salah satu negara di Eropa yang secara konstan terus menghasilkan film-film yang berkualitas. Bukan hanya karena pada pembuat film di negara ini mampu menyaingi kualitas film-film Hollywood, atau negara lainnya, namun kekayaan budaya dari masyarakat Perancis (atau Eropa) mampu memberikan sentuhan tersendiri pada setiap film-film mereka, sehingga menghasilkan film-film yang tidak mudah dilupakan begitu saja.

Paris 36 (atau berjudul Faubourg 36 di negara asalnya) adalah salah satu contoh film Perancis yang ingin memanfaatkan kekayaan budaya dan sejarah Perancis pada tahun 30-an. Disutradarai oleh Christophe Barratier, orang yang sama yang juga mengarahkan Les Choristes (The Chorus), film drama ini juga menyelipkan beberapa adegan musikal yang mungkin terjadi karena latar belakang cerita film ini.

Paris 36 sendiri mengisahkan mengenai Pigoil (Gérard Jugnot – aktor yang juga berperan di Les Choristes), pria yang bekerja di sebuah teater pertunjukan bernama Chansonia di sebuah wilayah kecil bernama Faubourg, yang di malam tahun baru 1936 harus menerima kesialan berturut-turut. Istrinya ia ketahui berselingkuh dengan salah satu pemain pertunjukan tersebut (dan kemudian lari dengannya) serta kehilangan pekerjaannya di tempat tersebut karena sang pemilik bunuh diri dan tempat disebut direbut oleh preman daerah tersebut, Galpiat (Bernard-Pierre Donnadieu).

THE CENTER STAGE. Nora Arnezeder berperan sebagai Douce, sang bintang utama Chansonia, sekaligus sumber konflik bagi beberapa karakter.

Tidak sampai disitu, empat bulan setelah kejadian tersebut, Pigoil harus menerima kenyataan bahwa anaknya, Jojo (Maxence Perrin), harus diambil oleh negara dan diserahkan hak asuhnya pada sang istri karena Pigoil yang masih belum memiliki pekerjaan maupun penghasilan tetap. Bersama dua orang temannya, Milou (Clovis Cornillac) dan Jacky (Kad Merad), Pigoil merayu Galpiat agar mau memberikan kesempatan bagi mereka untuk membuka dan mengelola Chansonia kembali. Walau ragu, akhirnya Galpiat mau melakukannya. Nantinya, bersama dengan Douce (Nora Arnezeder), seorang wanita yang pada awalnya dititipkan Galpiat agar ia dapat mendekatinya, mereka berempat terus berusaha, kegagalan demi kegagalan, untuk membangkitkan kembali nama Chansonia.

Melihat apa yang diberikan oleh sang sutradara di sepanjang film ini, para penonton pastinya secara tidak langsung akan beranggapan film ini adalah sebuah perpaduan dari Moulin Rouge! dan La Vie En Rose. Dan anggapan itu tidak dapat sepenuhnya dianggap salah. Paris 36 memberikan banyak sub cerita kepada para penontonnya. Mulai dari kisah hidup Pigoil, hubungan dirinya dengan sang anak, perjuangannya membangun kembali Chansonia, hubungan segitiga antara Douce, Milou dan Galpiat, siapa identitas Douce sebenarnya, dan masih ada beberapa sub cerita lainnya. Hal itu dicoba dirangkum Barratier dalam jangka durasi selama 2 jam.

Untungnya, pendekatan yang diberikan pada Paris 36 tidak terlalu buruk. Seluruh permasalahan yang ia bawa satu persatu, secara perlahan, ia selesaikan di hadapan para penontonnya. Namun, tetap saja hal tersebut membuat hubungan penonton dengan tiap karakter yang ada di jalan cerita film ini menjadi kurang terjalin dengan baik. Belum lagi penampilan para jajaran pemerannya yang sepertinya tidak cukup memuaskan. Mereka tampil baik, hanya saja belum cukup untuk sampai pada tingkat dimana para penonton akan dapat merasa terhubung dan merasakan apa yang karakter mereka sedang lalui.

Sebagai sebuah film yang juga ingin membawa tema musikal ke dalam jalan cerita, Paris 36 juga terkesan tanggung. Tidak banyak lagu-lagu yang ditampilkan karena kelebihan muatan drama yang dibawa film ini. Walau begitu, beberapa lagu yang mucul di lagu ini cukup dapat dinikmati oleh para penontonnya, termasuk sebuah lagu berjudul Loin de Paname yang dibawakan aktris Nora Arnedezer, yang baru-baru ini meraih nominasi Best Original Song di ajang 82nd Academy Awards.

Apa yang diberikan oleh Christophe Barratier lewat Paris 36 sebenarnya tidak terlalu buruk. Barratier berhasil memberikan sebuah tontonan drama yang disertai berbagai iringan musik khas Perancis yang mampu menghibur penontonnya. Film ini juga memberikan visualisasi yang cukup indah dan meyakinkan akan kondisi Perancis pada tahun 1936. Yang cukup patut dikeluhkan adalah betapa Barratier terlalu banyak menuangkan masalah pada jalan cerita film ini. Seharusnya, Paris 36 dapat berjalan lebih ringan lagi, dan menjadi sebuah tontonan yang lebih menyenangkan daripada menjadi sebuah tontonan yang (inginnya bersifat) depresif namun cenderung gagal dalam eksekusinya.

Rating: 3 / 5

Paris 36 (Pathé Distribution, Sony Pictures Classics, 2009)

Paris 36 (2009)

Directed by Christophe Barratier Produced by Jacques Perrin, Nicolas Mauvernay Written by Christophe Barratier, Julien Rappeneau Starring Gérard Jugnot, Clovis Cornillac, Kad Merad, Nora Arnezeder, Pierre Richard, Maxence Perrin, Bernard-Pierre Donnadieu Music by Reinhardt Wagner Cinematography Tom Stern Editing by Yves Deschamps Studio Galatée Films/Pathé Production/Constantin Film/France 2 Cinéma/France 3 Cinéma/Logline Studios/Novo Arturo Films/Blue Screen Productions Distributed by Pathé Distribution/Sony Pictures Classics Running time 120 minutes Country France Language French

One thought on “Review: Paris 36 (2009)”

Leave a Reply