Review: The Princess and the Frog (2009)


Well kiddos… Jauh sebelum Finding Nemo merebut gelar sebagai film animasi terlaris sepanjang masa (gelar yang tak bertahan lama karena Shrek 2 meraih posisi tersebut beberapa saat kemudian), atau sebelum dunia animasi kalian dipenuhi oleh tokoh-tokoh animasi CGI, ayah, ibu, dan saudara-saudara kalian yang berumur jauh lebih tua terlebih dahulu mengenal berbagai tokoh animasi yang diproduksi dengan cara yang lebih tradisional.

Teknik tersebut, yang disebut dengan hand-drawn animation, merupakan sebuah teknik tertua dalam membuat sebuah gambar animasi, memerlukan waktu dan ketelitian yang lebih lama karena setiap frame gambar-nya dilakukan melalui goresan tangan seorang animator. Lewat cara inilah Beauty and the Beast berhasil meraih nominasi Best Picture pada ajang Academy Awards tahun 1991 atau The Lion King berhasil meraup pendapatan sebesar US$783 juta dari peredarannya di seluruh dunia pada tahun 1994.

Dan yahhh… kemajuan teknologi membuat teknik hand-drawn animation perlahan-lahan ditinggalkan. Untungnya, Walt Disney Pictures, perusahaan yang dianggap paling terdepan dalam karya animasi, tetap berkomitmen untuk melanjutkan tradisinya untuk merilis sebuah film animasi dengan teknik ini minimal satu film setiap tahunnya. Untuk tahun 2009, Walt Disney merilis The Princess and the Frog, yang menjadi animasi tradisional pertama Walt Disney semenjak merilis Home on the Range pada tahun 2004.

TRUE LOVE'S KISS. Disney kembali ke animasi tradisional dan membuktikan bahwa mereka masih dicintai para penggemar film animasi.

Mendasarkan jalan ceritanya pada kisah populer The Frog Prince karya The Grimm Brothers, film ini menceritakan mengenai kish hidup Tiana (Anika Noni Rose) yang berusaha untuk mewujudkan mimpi ayahnya (Terrence Howard) agar keluarganya memiliki sebuah restauran. Selepas ayahnya meninggal, semangat Tiana, yang kini tinggal berdua bersama ibunya (Oprah Winfrey), semakin menggebu untuk mewujudkan mimpi ayahnya tersebut. Ia bekerja di dua tempat sekaligus dan sepertinya hanya mengisi hidupnya hanya untuk bekerja.

Pada suatu pesta yang diadakan teman masa kecilnya, Charlotte (Jennifer Cody), Tiana, yang memakai gaun sebagaimana layaknya seorang puteri,  bertemu dengan seekor kodok yang mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya adalah Prince Naveen (Bruno Campos), yang diubah wujudnya oleh seorang penyihir, The Shadow Man (Keith David). Mengingat legenda bahwa sebuah ciuman puteri akan mengubah dirinya kembali ke wujud asalnya, sang kodok meyakinkan Tiana untuk menciumnya. Karena Tiana bukanlah seorang puteri, tentu saja tidak terjadi apa-apa. Yang ada malah tubuh Tiana turut berubah menjadi seekor kodok lainnya. Film ini kemudian menceritakan pertualangan Tiana dan Prince Naveen, dalam wujud tubuh kodok mereka, mencari jalan keluar agar mereka dapat kembali berubah menjadi manusia normal.

Dari sisi cerita, twist yang diberikan oleh Disney pada kisah The Princess Frog yang telah melegenda tersebut memang cukup berani. Namun, bukan Disney namanya kalau mereka gagal dalam memberikan sebuah penampilan yang segar, menghibur namun tetap memiliki berbagai unsur moral yang penting. The Princess and the Frog secara sukses akan membuat para penontonnya tertawa dengan beberapa adegan dan dialog yang sangat menggelitik. Karakter-karakter tambahan lainnya yang ada di sepanjang film ini juga mampu menambah sisi hiburan yang ditawarkan film ini.

Seperti halnya Beauty and the Beast, Walt Disney juga mem-format The Princess and the Frog sebagai sebuah film animasi musikal, dimana karena latar belakang lokasi kisah ini berlangsung di New Orleans, maka score dan lagu-lagu soundtrack-nya didominasi track-track bernuansa gospel dan jazz karya komposer langganan Walt Disney, Randy Newman.  Harus diakui, lagu-lagu yang ditawarkan di film ini cenderung kurang catchy, bahkan beberapa diantaranya sama sekali tidak mengesankan. Hal ini yang mungkin akan membuat The Princess and the Frog kurang begitu dapat dinikmati oleh beberapa orang.

Secara keseluruhan, bagi mereka yang rindu akan zaman-zaman keemasan Disney, ketika Disney merilis film-film animasi tradisionalnya seperti Aladdin, Beauty and the Beast, Bambi hingga The Lion King, dijamin akan menyukai apa yang diberikan Disney di The Princess and the Frog. Namun, sepertinya hal tersebut hanya akan berhenti di titik tersebut. Film ini hanya akan membawa berbagai kenangan manis akan zaman-zaman keemasan Disney tanpa memberikan hal baru lainnya. Tidak cukup untuk membuat film ini akan sangat diingat dalam beberapa waktu kedepan. Bagaimanapun, apa yang dihasilkan Disney lewat The Princess and the Frog sudah cukup memuaskan dan sangat menghibur. Dan itu sudah cukup menjadi alasan bagi Anda untuk tidak melewatkan film ini.

Rating: 4 / 5

The Princess and the Frog (Walt Disney Animation Studios/Walt Disney Pictures, 2009)

The Princess and the Frog (2009)

Directed by Ron Clements, John Musker Produced by Peter Del Vecho, John Lasseter (executive producer) Written by Ron Clements, John Musker, Rob Edwards (screenplay), Ron Clements, John Musker, Greg Erb, Jason Oremland, Don Hall (story) Starring Anika Noni Rose, Bruno Campos, Keith David, Michael-Leon Wooley, Jim Cummings, Jenifer Lewis, John Goodman, Oprah Winfrey, Jennifer Cody, Peter Bartlett, Terrence Howard Music by Randy Newman Editing by Jeff Draheim Studio Walt Disney Animation Studios Distributed by Walt Disney Pictures Running time 97 minutes Country United States Language English

2 thoughts on “Review: The Princess and the Frog (2009)”

  1. serius nih beberapa lagunya kurang catchy dan mengesankan?
    hahaha, menurut aku justru ini karya animasi tradisional Disney dengan background musik yang bikin aku senyum2 sendiri dengernya.
    Barangkali blm semua film animasi Disney jadul aku tonton, jadi baru kali ini aku denger film animasi Disney yang pake musik bergenre jazz, dan hasilnya gak pernah bosen nonton film ini berulang kali. Mungkin gara2 aku penggemar berat musik jazz dan yg berbau broadway kali ya, jadi seneng banget Disney bisa ngeluarin film kayak gini.
    overall, terimakasih udah bikin reviewnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s