Review: Edge of Darkness (2010)


Sebagai seorang aktor, nama Mel Gibson tentu saja telah banyak dikenal oleh seluruh pecinta film di seluruh dunia. Walaupun aktingnya belum pernah mendapat pengakuan dari Academy Awards, bahkan ia belum pernah dinominasikan, Gibson dikenal sebagai aktor dengan penampilan yang sangat meyakinkan, khususnya ketika ia membintangi film-film bertema keras dan penuh adegan aksi.

Edge of Darkness merupakan film pertama aktor asal Australia ini setelah terakhir kali berperan dalam film We Were Soldiers dan Signs di tahun 2002. Film ini sendiri merupakan adaptasi layar lebar dari sebuah miniseri berjudul sama yang sempat ditayangkan BBC dan sukses pada tahun 1985. Versi layar lebar ini disutradarai oleh Martin Campbell, yang sebelumnya sukses menyutradarai proyek reboot dari serial James Bond, Casino Royale, serta diproduseri oleh Michael Wearing, sutradara dan produser asli dari serial Edge of Darkness.

Dimulai dengan adegan mengapungnya tiga mayat di sebuah danau di seberang Norwood International’s Nuclear Facility, film ini menceritakan pertemuan kembali antara seorang detektif, Thomas Craven (Mel Gibson), dengan anak satu-satunya, Emma Craven (Bojana Novakovic), setelah beberapa lama berpisah akibat perbedaan pendapat antara mereka berdua. Ketika Thomas sedang mempersiapkan makan malam, Emma merasakan sakit pada tubuhnya dan meminta sang ayah untuk membawanya ke dokter. Malang, ketika baru saja membuka pintu rumah, seorang pria asing bertopeng datang dan langsung menghujamkan tembakan ke tubuh Emma, dan menyebabkan kematiannya.

CONSPIRACY THEORY. Mel Gibson kembali ke layar lebar untuk memecahkan permasalahan yang lebih rumit dari kelihatannya.

Tentu saja, hal ini membawa duka yang mendalam pada diri Thomas. Ia, dan teman-temannya di kepolisian, menduga bahwa target penembakan sebenarnya adalah dirinya. Karenanya, Thomas membuka kembali berbagai file para penjahat yang pernah ditanganinya untuk melihat berbagai potensi mengenai adanya pelaku yang masih memendam dendam pada dirinya. Namun, apa yang ditemukan Thomas jauh lebih berbahaya dari yang ia sangkakan. Kematian sang putri satu-satunya secara perlahan membuka begitu banyak tabir konspirasi kejahatan yang ternyata banyak melibatkan pihak pemerintahan.

Plot dengan dasar membalas dendam karena motif kehilangan seseorang yang sangat dicintai mungkin bukan hal baru lagi di Hollywood. Terakhir, Jodie Foster melakukannya dengan sangat baik di The Brave One, dan Liam Neeson juga tampil meyakinkan di Taken. Namun, dengan melibatkan kehadiran pihak ketiga, bukan murni hanya kisah seorang yang ingin menuntut balas terhadap seseorang, Edge of Darkness memiliki plot cerita yang lebih dalam, kompleks dan berliku dibandingkan dengan film-film tersebut.

Faktor tersebut dapat memberikan sebuah nilai lebih bagi Edge of Darkness, sekaligus sedikit kesulitan bagi mereka yang hanya menonton film ini untuk mencari sebuah tontonan hiburan semata. Dan harus diakui, Martin Campbell sedikit kesulitan untuk mengembangkan beberapa bagian dari cerita tersebut, khususnya pada karakterisasi masing-masing tokoh di dalam jalan cerita, yang kemungkinan besar disebabkan oleh keterbatasan waktu yang tersebid.

Cara penyelesaian konflik di film ini, mungkin akan mengingatkan sebagian orang akan The Departed. Tidak heran, proses adaptasi naskah Edge of Darkness memang dilakukan oleh orang yang sama, William Monahan. Dan ini bukanlah suatu hal yang buruk. Hanya saja, Monahan seperti terlalu sering memainkan jalannya roda emosi pada naskah film ini. Pada beberapa menit Edge of Darkness berjalan seperti sebuah film aksi murni yang menawarkan banyak adegan keras, di menit berikutnya Monahan menyajikan alur drama dengan jalan cerita lamban, dan hal ini berjalan secara bergantian. Sekali lagi, untungnya, eksekusi naskah ini berjalan cukup baik, sebagian besar karena kemampuan drama yang kuat dari para pemerannya. Namun tentu saja bagi mereka yang menginginkan lebih banyak adegan keras, akan merasa sedikit kecewa. Khususnya, ketika film ini memberikan lebih banyak eksplorasi ke sisi drama daripada ke sisi action-nya.

Edge of Darkness juga memberikan sebuah ending cerita yang cukup cerdas, dimana tidak ada satupun pihak yang “benar-benar menang” di akhir cerita. Karakter Thomas Craven memang berhasil meraih apa yang ia inginkan semenjak awal film, namun ia juga tidak diberikan sebuah kebahagiaan mutlak di akhir cerita. Berbeda dengan versi aslinya, Monahan memberikan sebuah sentuhan puitis yang cukup menyentuh bagi akhir cerita dari versi layar lebar dari Edge of Darkness ini.

Kembalinya Mel Gibson sebagai seorang aktor juga ternyata memberikan sebuah penampilan yang sangat memuaskan. Gibson memang sedang berada di comfort zone-nya dengan mengambil peran di film ini. Jadi tidak mengherankan bila Gibson mampu menampilkan penampilan terbaiknya, seperti yang biasa ia tampilkan di film-film bergenre sama yang pernah ia perankan sebelumnya. Para aktor pendukung, khususnya Danny Huston dan ray Winstone, juga memberikan penampilan yang baik. Huston mampu tampil agresif sebagai seorang antagonis, sementara Winstone memberikan penampilan yang misterius, seperti yang seharusnya dilakukan oleh karakter yang ia perankan.

Secara keseluruhan, Edge of Darkness adalah sebuah ajang comeback yang cukup memuaskan bagi seorang Mel Gibson. Sangat menyenangkan untuk melihat Gibson kembali berperan dalam sebuah film dimana ia dapat tampil sederhana namun memberikan sebuah pengaruh yang kuat di dalam jalan cerita. Sebagai sebuah film, Edge of Darkness juga tidak mengecewakan. Sebagian orang mungkin mengeluhkan panjangnya alur drama yang ditawarkan film ini. Namun, bagaimanapun juga, alur drama yang ada di film ini sendiri tampil cukup kuat dan membantu untuk menyeimbangi dan melengkapi berbagai adegan action yang diberikan di sepanjang alur cerita Edge of Darkness.

Rating: 3.5 / 5

Edge of Darkness (GK Films/BBC Films/Icon Productions/Warner Bros. Pictures, 2010)

Edge of Darkness (2010)

Directed by Martin Campbell Produced by Graham King, Tim Headington, Michael Wearing Written by William Monahan, Andrew Bovell, Troy Kennedy Martin (Series) Starring Mel Gibson, Ray Winstone, Danny Huston, Bojana Novakovic, Shawn Roberts Music by Howard Shore Cinematography Phil Meheux Editing by Stuart Baird Studio GK Films/BBC Films/Icon Productions Distributed by Warner Bros. Pictures Running time 117 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Advertisements

One thought on “Review: Edge of Darkness (2010)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s