Review: The Boys Are Back (2009)


Dua tahun setelah film layar lebar terakhirnya, No Reservations, dirilis, sutradara asal Australia, Scott Hicks, kini kembali lagi dengan sebuah film drama yang dibintangi oleh aktor dan aktris asal negeri kangguru tersebut. The Boys Are Back adalah film yang diadaptasi dari sebuah buku autobiografi karya jurnalis olahraga harian Inggris The Independent, Simon Carr, yang berjudul The Boys Are Back in Town.

Berkisah mengenai seorang penulis kolom olahraga, Joe Warr (Owen), yang memiliki kehidupan yang dapat dibilang bahagia. Karir yang mapan, istri yang cantik, Katy (Fraser), dan seorang anak laki-laki yang sedang tumbuh dewasa, Artie (McAnulty), mengisi keseharian Joe. Sayang, hal tersebut tak bertahan lama. Istrinya Katy harus meninggalkan dirinya untuk selamanya setelah beberapa saat bertarung melawan penyakit kanker yang ia derita.

FAMILY PORTRAIT. Tiga pria... tanpa sentuhan wanita.

Kini, Joe tinggal sendirian, dan sedikit merasa kebingungan untuk menghadapi anaknya yang masih berusia 6 tahun, Artie. Joe pada awalnya menerapkan peraturan ‘Just Say Yes’ di rumah mereka, dimana semua kehendak Artie ia turuti, walau hal ini sebenarnya mendapat protes dari sang mertua (Blake). Dan benar saja, Artie ternyata menjadi sedikit manja dan menyusahkan Joe yang saat itu juga harus kembali menyeimbangkan kehidupan pribadi dan karir yang sedang ia tempuh.

Namun, dalam perjalanannya, seluruh perjuangan Joe untuk mengerti bagaimana diri Artie sebenarnya, akhirnya berhasil dan malah mendekatkannya kembali dengan putra dari perkawinan pertamanya, Harry (MacKay).

Secara cerita, The Boys Are Back mungkin tidak terlalu menawarkan sebuah jalan cerita yang baru, mengingat di Hollywood tipe cerita film keluarga seperti ini sudah banyak difilmkan. Karena itu, film ini dengan sangat jelas menggantungkan kualitasnya pada para pemeran-pemeran yang terlibat di dalamnya, khususnya Clive Owen, yang menjadi tokoh sentral di film ini.

Untungnya, Owen mampu menjawab tantangan tersebut. Owen terlihat sangat natural dalam memerankan seorang ayah yang berjuang untuk tetap tegar bertahan setelah ia ditinggal sang istri agar ia dapat merawat anaknya. Bahkan, mungkin penampilan Owen di film ini merupakan penampilannya yang terbaik setelah Closer pada tahun 2004 lalu. Para pemeran anak di film ini juga tampil cukup cemerlang. Tidak ada sedikitpun penampilan dari dua aktor muda, Nicholas McAnulty dan George MacKay, yang dapat dipermasalahkan. Chemistry keduanya bersama Owen juga akhirnya terbentuk sangat baik.

Selain dari departemen akting, The Boys Are Back juga memiliki keunggulan sinematografi yang menampilkan alam sekitar Australia dengan cukup menawan. Tata musik film ini, yang dibuat oleh Hal Lindes dan band asal Islandia, Sigur Ros, juga terasa sangat pas dengan mood yang hendak ditampilkan Hicks lewat film ini.

Dengan mengandalkan sepenuhnya pada performa Clive Owen, The Boys Are Back dapat dikatakan cukup berhasil dalam membawa penontonnya untuk merasakan petualangan hubungan antara ayah dan anak yang ditawarkan di film ini. Walaupun film ini mungkin dirasakan sedikit kurang memiliki adegan-adegan menyentuh yang biasanya ada di film sejenis, namun The Boys Are Back cukup memadai untuk ditonton sebagai sebuah film drama keluarga.

Rating: 3.5 / 5

The Boys Are Back (Miramax, 2009)

The Boys Are Back (2009)

Directed by Scott Hicks Produced by Greg Brenman Written by Allan Cubitt Starring Clive Owen Music by Hal Lindes Cinematography Greig Fraser Editing by Scott Gray Distributed by Miramax Running time 104 minutes Country Australia Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s